Dunia

PBB Tinggalkan Mercator, Adopsi Equal Earth Memanas Ketegangan Geopolitik Perdagangan!

Jakarta, Maret.id — Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengadopsi resolusi nonmengikat yang mendorong penggunaan proyeksi kartografi Equal Earth sebagai acuan pemetaan dunia untuk menggantikan dominasi proyeksi Mercator.

Isi Resolusi dan Hasil Pemungutan Suara

Resolusi yang berjudul “Koreksi Peta” itu mendapat dukungan mayoritas besar dari negara anggota, dengan 164 negara memilih mendukung.
Satu negara memilih menentang dan enam negara menyatakan abstain, sesuai hasil penghitungan resmi di sidang Majelis Umum.

Negara yang Menentang dan Memilih Abstain

Amerika Serikat tercatat sebagai satu-satunya negara yang menolak resolusi tersebut di antara ratusan delegasi yang hadir.
Estonia, Georgia, Lithuania, Moldova, Serbia, dan Ukraina tercatat memilih untuk abstain dalam pemungutan suara itu.

Mengapa Mercator Dikritik

Proyeksi Mercator, yang telah lama digunakan dalam kartografi dan peta dinding sekolah, dianggap secara sistematis mendistorsi ukuran wilayah yang jauh dari garis khatulistiwa.
Distorsi ini membuat wilayah seperti benua Afrika tampak jauh lebih kecil dibandingkan ukuran proporsionalnya di dunia nyata.

Sifat dan Keunggulan Equal Earth

Equal Earth adalah proyeksi yang dirancang untuk menyajikan luas daratan secara lebih akurat dan proporsional, sehingga mengurangi bias skala yang melekat pada proyeksi lain.
PBB menyatakan proyeksi ini mampu menampilkan proporsi ukuran daratan benua dengan presisi yang lebih baik untuk keperluan publikasi cetak maupun platform digital.

Dampak Pendidikan, Budaya, dan Politik

Majelis Umum menilai distorsi peta bukan sekadar persoalan teknis, melainkan memiliki implikasi kognitif, pendidikan, budaya, geopolitik, dan sosial-ekonomi.
Koreksi terhadap bias historis ukuran benua dianggap penting untuk mempromosikan keadilan, pengakuan, dan pembangunan, terutama bagi negara-negara dan wilayah di Afrika.

Anjuran dan Standar Internasional

Dalam resolusi itu, PBB mengimbau seluruh negara anggota, organisasi internasional, dan entitas terkait untuk menyebarluaskan serta menerapkan metode peta yang menampilkan ukuran daratan secara lebih akurat.
Majelis Umum juga mendorong penyusunan standar internasional baru guna memastikan konsistensi dan akurasi ukuran benua pada berbagai media pemetaan.

Implikasi bagi Publikasi dan Platform Digital

Adopsi rekomendasi ini dapat mendorong perubahan pada materi ajar, atlas, peta dinding, dan platform pemetaan digital yang selama ini menggunakan proyeksi Mercator.
Perubahan tersebut akan memerlukan penyesuaian teknis dan editorial dari penerbit, penyedia peta daring, serta lembaga pendidikan dan pemerintahan.

Pemandangan Ke Depan

Karena resolusi bersifat nonmengikat, implementasinya akan bergantung pada langkah sukarela negara-negara anggota dan institusi terkait.
Namun keputusan tersebut menandai upaya multilateral untuk mengakui dan memperbaiki bias visual dalam representasi geografis global.
PBB menegaskan bahwa pembaruan cara pemetaan bukan sekadar soal proyeksi matematis, melainkan bagian dari upaya luas untuk mengoreksi warisan pandangan dunia yang tidak proporsional dan mendukung kesetaraan representasi di peta dunia.

Aditya Permana

Jurnalis dan analis media digital yang berfokus khusus pada pelaporan sektor ekonomi, bisnis, dan finansial. Di maret.id, ia mendedikasikan perannya untuk mengulas dinamika pasar, kebijakan fiskal, perkembangan UMKM, hingga tren ekonomi makro global dan nasional. Dengan pendekatan yang tajam dan berbasis data, Aditya berkomitmen menyajikan informasi kompleks seputar dunia keuangan ke dalam ulasan yang mendalam, objektif, dan mudah dipahami oleh semua kalangan pembaca.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button