IRGC: Blokade Ekonomi Lebih Rugikan AS daripada Iran, Memanas, Guncang Pasokan Energi!

Jakarta, Maret.id — Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan bahwa blokade ekonomi dan pembatasan maritim yang diberlakukan Amerika Serikat terhadap Iran berpotensi menimbulkan beban biaya yang jauh lebih besar bagi Washington daripada dampak yang dirasakan Teheran. Pernyataan itu disampaikan oleh juru bicara IRGC yang menilai upaya tekanan ekonomi tidak otomatis memberi kemenangan kepada negara yang menerapkannya.
Klaim IRGC soal biaya ekonomi
Juru bicara IRGC, Brigadir Jenderal Hossein Mohibi, diberitakan menyatakan bahwa jika Amerika Serikat berusaha menyebabkan kerugian ekonomi sebesar satu dolar terhadap Iran, Washington kemungkinan harus menanggung biaya beberapa dolar. Pernyataan itu disampaikan Mohibi dalam wawancara dengan kantor berita Mehr yang mengutip analisis pihaknya mengenai efek kontra-sanksi dan gangguan rantai pasokan.
Respons terhadap kebijakan AS sebelumnya
Mohibi menegaskan bahwa Iran tidak akan menyerah di bawah tekanan sanksi dan penghimpitan ekonomi, serta menolak kepasrahan sebagai opsi politik. Ia juga menyinggung bahwa sebelumnya mantan Presiden AS Donald Trump percaya bahwa tekanan militer dan dominasi angkatan laut dapat memaksa Iran mundur, namun menurutnya perhitungan tersebut terbukti keliru.
Beban utang dan persaingan global
Menurut pernyataan Mohibi, Amerika Serikat menghadapi beban utang yang sangat besar di samping persaingan ekonomi yang ketat dengan China dan negara-negara lain, sehingga kesulitan memenangkan apa yang digambarkannya sebagai “perang ekonomi” melawan Iran. Klaim ini mencerminkan narasi Tehran bahwa tindakan pembatasan dapat berbalik menekan kepentingan ekonomi pengenalnya.
Pernyataan IRGC itu juga menyebut tekanan regional yang memengaruhi cadangan strategis serta akses terhadap sejumlah bahan baku penting. Mohibi mencontohkan gangguan terhadap produksi dan ekspor aluminium di kawasan sebagai salah satu faktor yang memengaruhi pasokan global.
Beberapa analis internasional mengamati bahwa langkah-langkah seperti sanksi dan pembatasan maritim memang bisa menimbulkan efek riak di pasar komoditas dan logistik, namun efek akhir bergantung pada kapasitas negara-negara lain untuk mengisi celah pasokan. Dalam praktiknya, upaya pengendalian pasokan sering memicu pergeseran rute perdagangan dan peningkatan biaya asuransi serta pengamanan pelayaran.
Langkah-langkah AS dan klaim Iran
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintahan AS meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran dengan menjatuhkan sanksi yang menyasar sektor minyak, pelayaran, penerbangan, teknologi, dan keuangan Iran. Pejabat Iran menilai langkah-langkah tersebut sebagai bagian dari upaya perang ekonomi dan blokade yang menuntut respons kebijakan dan retorika dari Tehran.
Kedua belah pihak kini mempertahankan posisi tegas: Washington mempertahankan bahwa sanksi merupakan alat kebijakan luar negeri untuk menekan program-program yang dianggap bermasalah, sementara Tehran menegaskan bahwa sanksi adalah bentuk agresi yang harus diatasi melalui strategi ekonomi dan diplomatik. Dampak lanjutan dari ketegangan ini akan sangat bergantung pada dinamika politik global, kebijakan negara-negara mitra perdagangan, dan respon sektor swasta terhadap ketidakpastian pasokan.
Penilaian independen terhadap klaim biaya yang ditekankan IRGC memerlukan data rinci mengenai aliran perdagangan, tingkat substitusi pemasok, serta perubahan biaya logistik, sehingga perdebatan mengenai siapa yang paling menanggung kerugian ekonomi kemungkinan akan berlangsung lama.





