Film NAZA Ungkap Israel Membunuh Ribuan Warga Gaza dengan AI, Memanas Diplomasi!

Jakarta, Maret.id — Film dokumenter berjudul NAZA memicu perdebatan internasional setelah diputar perdana di Festival Film Venesia pada 10 September 2026, dengan klaim bahwa militer Israel menggunakan teknologi kecerdasan buatan untuk menargetkan dan membunuh warga sipil di Gaza.
Sekilas tentang film dan konteks pemutaran
Film berdurasi sekitar 80 menit ini menampilkan kesaksian dari 24 narasumber yang mengaku berasal dari lingkungan militer dan intelijen Israel dengan identitas yang dirahasiakan. Judul NAZA merujuk pada istilah singkat militer yang dikatakan berkaitan dengan perkiraan “korban tambahan” dalam perencanaan operasi.
Isi pengungkapan dalam dokumenter
Dalam beberapa adegan, narasumber mendeskripsikan penggunaan sebuah sistem AI yang disebut “Lavender” untuk mengidentifikasi target, termasuk dengan mengandalkan data dari ribuan ponsel yang diretas dan frasa percakapan singkat seperti “ayah pulang”. Ada juga penggambaran internal tentang pengabaian terhadap hukum humaniter dan atmosfer kebencian terhadap warga Palestina.
Pernyataan yang menimbulkan kegemparan
Salah satu pengakuan paling mengejutkan adalah klaim bahwa pada satu titik sebuah serangan disetujui meskipun diperkirakan akan menelan ratusan korban sipil, dan beberapa narasumber menggambarkan proses penargetan sebagai “seperti permainan video” dan “sangat menyenangkan”. Para pembuat film menyatakan tujuan mereka mendokumentasikan secara rinci bagaimana sistem itu bekerja dan bagaimana keputusan operasional dibuat.
Respons resmi Angkatan Pertahanan Israel
Angkatan Pertahanan Israel (Israel Defense Forces/IDF) menolak dan membantah penggambaran dalam film tersebut, menyatakan bahwa klaim-klaim itu berasal dari sumber yang “tidak dapat diverifikasi.” IDF menegaskan bahwa keputusan penargetan dibuat oleh personel manusia dan bahwa operasi militer ditujukan terhadap organisasi bersenjata.
Pengakuan penggunaan AI oleh militer
Meskipun membantah klaim dalam film, IDF telah mengakui penggunaan alat berbasis kecerdasan buatan dalam konteks militer untuk mempercepat rekomendasi penargetan, termasuk sistem yang disebut berbeda dalam sejumlah laporan. Pada beberapa kesempatan sebelumnya diberitakan bahwa sistem otomatis sempat menghasilkan daftar tersangka dalam jumlah besar yang harus dilihat oleh personel militer.
Respon publik dan reaksi penonton di Venesia
Pemutaran NAZA di Venesia disambut tepuk tangan panjang yang berlangsung sekitar 25 menit dan penonton memenuhi ruang pemutaran, dengan beberapa menyatakan dukungan simbolis untuk warga Palestina. Momen itu memancing perdebatan tajam di kalangan penonton internasional serta perhatian media festival.
Repersepsi internasional dan implikasi hukum
Pengungkapan dalam dokumenter memicu pertanyaan tentang akuntabilitas, penggunaan teknologi otonom dalam operasi militer, serta implikasi terhadap hukum humaniter internasional. Para pengamat menyatakan perlunya investigasi independen untuk memverifikasi klaim dan menilai apakah prosedur penargetan memenuhi standar perlindungan warga sipil.
Latar belakang laporan sebelumnya
Beberapa laporan terdahulu menyebut bahwa sistem otomatis pernah menandai puluhan ribu individu sebagai tersangka dan bahwa rekomendasi mesin kerap ditinjau dalam waktu singkat oleh personel. Tuduhan tersebut telah menimbulkan kontroversi yang berulang dan penyangkalan dari otoritas terkait.
Kondisi ke depan dan panggilan untuk klarifikasi
Kontroversi yang ditimbulkan oleh NAZA mendorong seruan dari sejumlah pihak agar para pemangku kepentingan terkait memberikan klarifikasi dan memungkinkan verifikasi independen atas klaim yang diajukan. Bagi komunitas internasional, kasus ini mempertegas urgensi diskusi tentang batas penggunaan kecerdasan buatan dalam operasi bersenjata dan perlindungan hak asasi manusia.





