Ratusan rohaniwan 8 negara pawai anti

Jakarta, Maret.id — Ratusan pastor, biarawan, biarawati, dan uskup Katolik melakukan pawai dari Roma menuju Vatikan pada Selasa (22/9/2026) sebagai bentuk protes terhadap apa yang mereka sebut sebagai genosida di Gaza.
Aksi dari Roma hingga depan markas perusahaan senjata
Sekitar 150 rohaniwan dari delapan negara bergerak melalui jalur yang melewati dekat Lapangan Santo Petrus dan berhenti sejenak sebelum melanjutkan ke kedutaan Palestina dan Lebanon. Aksi berakhir di luar kantor pusat perusahaan pertahanan Italia, Leonardo, di mana para peserta menyampaikan tuntutan terhadap industri alat perang.
Simbolisme dan tuntutan massa
Peserta membawa ranting zaitun, poster religius yang menggambarkan Bunda Maria memegang seorang anak kurus, serta spanduk putih besar yang memuat nama-nama anak-anak Palestina dan Lebanon yang disebut tewas dalam serangan. Di lokasi akhir, seorang uskup agung Italia menyerukan penerbitan surat perintah penangkapan internasional terhadap eksekutif perusahaan senjata yang dituduh mendukung aksi militer.
Peran organisasi dan perbedaan sikap dengan Takhta Suci
Aksi ini diselenggarakan oleh jaringan internasional yang menamakan diri Priests Against Genocide, yang terbentuk pada tahun sebelumnya dan melibatkan rohaniwan dari negara-negara seperti Afrika Selatan, Inggris, Irlandia, Jerman, Amerika Serikat, dan Spanyol. Jaringan tersebut mengadopsi posisi yang lebih tegas dibandingkan retorika resmi Takhta Suci, yang menyatakan belum siap untuk membuat penilaian hukum akhir mengenai tuduhan genosida.
Konteks hukum internasional dan respons negara-negara terkait
Pada September 2025, sebuah komisi penyelidikan PBB menyimpulkan adanya bukti yang menunjukkan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional yang dinilai sejauh memenuhi elemen genosida, sementara sebuah perkara terpisah yang diajukan oleh Afrika Selatan masih berlangsung di hadapan Mahkamah Internasional. Sampai putusan akhir dikeluarkan, persoalan ini tetap menjadi bahan perdebatan hukum dan politik di tingkat internasional.
Tanggapan dari pihak yang dituduh dan latar belakang konflik
Pemerintah Israel menolak keras tuduhan genosida dan menegaskan bahwa operasi militernya menargetkan kelompok bersenjata, sambil mengklaim upaya untuk meminimalkan korban sipil serta menuding kelompok bersenjata menggunakan kawasan padat penduduk. Konteks konflik ini bermula setelah serangan pada 7 Oktober 2023 oleh Hamas yang menewaskan sekitar 1.200 warga Israel, yang sebagian besar adalah sipil, dan respons militer yang berlangsung sejak saat itu.
Dampak kemanusiaan yang dikemukakan oleh pihak-pihak terkait
Otoritas kesehatan di Gaza mencatat jumlah korban jiwa yang sangat tinggi dalam periode konflik tersebut, dengan angka yang dilaporkan mencapai puluhan ribu jiwa dan persentase signifikan di antaranya adalah perempuan dan anak-anak. Kondisi infrastruktur, akses layanan kesehatan, serta pasokan pangan dan air menjadi sorotan utama dalam penilaian dampak kemanusiaan di wilayah yang terdampak.
Para peserta pawai menegaskan bahwa tindakan mereka bertujuan untuk menarik perhatian internasional terhadap situasi di Gaza dan mendesak langkah hukum serta kebijakan yang lebih tegas dari negara-negara Eropa. Aksi di Roma menambah tekanan publik terhadap aktor-aktor politik dan industri terkait dalam perdebatan yang terus berlanjut di forum-forum internasional.





