Dunia

Iran Tegaskan Kuasai Selat Hormuz, Memanas Ancaman Penutupan Rute Minyak!

Jakarta, Maret.id —Militer Iran menegaskan masih memegang kendali penuh atas Selat Hormuz dan menyatakan kesiapan untuk menutup seluruh jalur tidak resmi yang disebut dimanfaatkan untuk penyelundupan minyak. Pernyataan ini disampaikan oleh Mohammad-Reza Naqdi, penasihat senior komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), dalam wawancara yang disiarkan oleh stasiun televisi Al-Alam pada 7 Oktober 2026.

Klaim Penguasaan atas Selat Hormuz

Naqdi menyatakan bahwa angkatan bersenjata Iran menguasai situasi di perairan strategis tersebut dan menolak klaim pejabat Washington yang menyebut Selat Hormuz tetap terbuka di bawah kendali armada AS. Pernyataan itu mempertegas posisi Teheran dalam menghadapi tekanan internasional terkait akses pelayaran di wilayah itu.

Ia menuturkan bahwa kontrol atas jalur pelayaran bukan semata soal kemampuan militer teknis melainkan juga keputusan politik dan doktrin pertahanan nasional. Menurut Naqdi, segala tindakan terkait jangkauan dan penggunaan persenjataan berada di bawah otoritas tertinggi negara serta kebijakan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Penutupan Jalur dan Modus Operandi Penyulundupan

Naqdi menjelaskan ada pihak yang berupaya memodifikasi rute di sekitar perairan strategis untuk menerobos blokade, termasuk praktik penggunaan kapal kecil untuk memindahkan muatan minyak ke kapal tanker yang lebih besar. Ia menegaskan beberapa jalur yang dibuat oleh para pelanggar melalui peledakan atau penghancuran batuan di kawasan Selat Hormuz akan segera ditutup.

Dia menambahkan bahwa penutupan jalur tidak resmi ini akan diterapkan sampai tuntutan dan persyaratan Teheran dipenuhi. Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa langkah Tehran bersifat bertahap dan bergantung pada dinamika negosiasi serta kondisi lapangan.

Eskalasi dan Larangan Transit

Menurut pernyataan resmi Iran, eskalasi di Selat Hormuz meningkat sejak 28 Februari ketika Teheran mengumumkan larangan melintas bagi kapal yang dimiliki atau berafiliasi dengan Israel serta Amerika Serikat. Larangan itu, menurut pihak Republik Islam, merupakan respons terhadap apa yang digambarkan sebagai serangan gabungan terhadap wilayah Iran.

Keputusan untuk membatasi akses kapal tertentu ke perairan ini telah menimbulkan kecemasan di kalangan pelaku pelayaran internasional dan pengamat keamanan maritim. Selat Hormuz sendiri dikenal sebagai salah satu jalur pengangkutan minyak paling penting di dunia, sehingga perubahan kebijakan di kawasan ini berpotensi mengganggu pasokan dan sentimen pasar energi global.

Implikasi Keamanan dan Politik

Para analis menilai klaim penguasaan penuh atas Selat Hormuz oleh Iran memiliki dampak ganda, yaitu peningkatan kemampuan tawar politik Teheran sekaligus risiko meningkatnya ketegangan dengan negara-negara yang memiliki kepentingan strategis di wilayah tersebut. Penutupan jalur tidak resmi yang disebut dimanfaatkan untuk penyelundupan minyak dapat menjadi fokus tindakan keras yang berdampak pada arus perdagangan regional.

Pernyataan Naqdi yang menegaskan bahwa pembatasan jangkauan persenjataan lebih merupakan keputusan politik daripada kendala teknis menegaskan bahwa kebijakan keamanan Teheran akan terus dipengaruhi oleh pertimbangan strategis dan kebutuhan domestik. Hal ini juga membuka ruang bagi potensi konfrontasi jika diplomasi tidak mampu meredam eskalasi.

Respon Internasional dan Prospek Diplomasi

Dalam beberapa hari mendatang, perhatian internasional diperkirakan akan tertuju pada langkah-langkah Iran di lapangan serta reaksi negara-negara pelayaran dan kekuatan asing di wilayah tersebut. Pejabat Washington sebelumnya menyatakan pandangan berbeda mengenai kontrol atas Selat Hormuz, namun klaim Tehran memberi tekanan tambahan pada jalur diplomasi yang selama ini berlangsung.

Para pengamat menyerukan upaya diplomatik untuk menurunkan ketegangan dan memastikan keselamatan pelayaran internasional, sembari memperingatkan bahwa tindakan unilateral yang mempersempit ruang gerak kapal dagang berisiko memicu gangguan yang lebih luas. Hingga saat ini, belum ada indikasi penurunan retorika dari pihak-pihak yang terlibat, dan dinamika kawasan akan terus dipantau secara ketat oleh komunitas internasional.

Aditya Permana

Jurnalis dan analis media digital yang berfokus khusus pada pelaporan sektor ekonomi, bisnis, dan finansial. Di maret.id, ia mendedikasikan perannya untuk mengulas dinamika pasar, kebijakan fiskal, perkembangan UMKM, hingga tren ekonomi makro global dan nasional. Dengan pendekatan yang tajam dan berbasis data, Aditya berkomitmen menyajikan informasi kompleks seputar dunia keuangan ke dalam ulasan yang mendalam, objektif, dan mudah dipahami oleh semua kalangan pembaca.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button