Dunia

Pemanasan Global Ekstrem Picu Kepunahan Tumbuhan, Memanas Krisis Pangan!

Jakarta, Maret.id — Pemanasan global ekstrem di masa lalu tidak hanya memicu kepunahan massal tumbuhan, tetapi juga ikut mendorong ledakan keanekaragaman tanaman pada dua periode penting dalam ratusan juta tahun terakhir. Temuan ini memberikan pemahaman baru tentang mengapa tumbuhan berbunga atau angiosperma menjadi kelompok tumbuhan paling dominan di Bumi saat ini.

Temuan Utama Penelitian

Tim peneliti menemukan bahwa dua periode pemanasan ekstrem—pada pertengahan Zaman Kapur (Cretaceous) dan awal Era Kenozoikum (Cenozoic)—berperan ganda sebagai pemicu kepunahan sekaligus pendorong munculnya kelompok tumbuhan baru. Menurut para penulis, peristiwa pemanasan tersebut berlangsung selama beberapa juta tahun dan menciptakan tekanan seleksi yang mempercepat perubahan evolusi tumbuhan.

Metode dan Data yang Digunakan

Studi ini menganalisis lebih dari 60.000 temuan fosil serbuk sari dan spora untuk merekonstruksi pola keanekaragaman tumbuhan selama lebih dari 130 juta tahun terakhir. Para peneliti menerapkan metode statistik yang dirancang untuk mengurangi bias dalam catatan fosil sehingga menghasilkan perkiraan keanekaragaman yang lebih andal.

Peran Tumbuhan Berbunga

Hasil penelitian membantu menjelaskan bagaimana tumbuhan berbunga menjadi kelompok yang sangat produktif dan beragam, dengan sekitar 400.000 spesies saat ini. Penulis studi menyoroti bahwa keberhasilan angiosperma terkait erat dengan kemampuan mereka beradaptasi dan berevolusi cepat di bawah kondisi iklim yang berubah-ubah.

Profesor Greg Jordan dari University of Tasmania, salah satu penulis studi, mengatakan bahwa kepunahan dan munculnya kelompok baru tumbuhan terjadi terutama selama kedua periode pemanasan ekstrem tersebut. “Masing-masing periode berlangsung selama beberapa juta tahun, dengan pemanasan pada saat yang sama menghancurkan sekaligus mendorong keanekaragaman tumbuhan dalam rentang waktu jutaan tahun,” ujar Jordan.

Perbandingan dengan Periode Dingin

Sebaliknya, periode iklim yang lebih dingin selama catatan geologi menunjukkan perubahan yang relatif minim dalam struktur keanekaragaman tumbuhan. Hal ini mengindikasikan bahwa fluktuasi suhu yang ekstrem, bukan variasi kecil, lebih berpotensi memicu reorganisasi besar dalam komunitas tumbuhan global.

Ancaman dari Pemanasan Modern

Para peneliti memperingatkan bahwa pemanasan saat ini akibat aktivitas manusia berlangsung jauh lebih cepat daripada pemanasan alami di masa lalu. Kecepatan perubahan iklim modern meningkatkan risiko kepunahan tumbuhan dalam jangka waktu yang jauh lebih singkat, sehingga mengurangi kesempatan bagi evolusi adaptif yang sebelumnya terjadi selama jutaan tahun.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Plants ini menegaskan pentingnya tindakan mitigasi dan konservasi yang segera untuk menjaga keanekaragaman tumbuhan. Penelitian juga mendorong perlunya pemantauan fosil, genetik, dan ekologi yang lebih intensif untuk memahami bagaimana komunitas tumbuhan akan merespons perubahan iklim di masa depan.

Aditya Permana

Jurnalis dan analis media digital yang berfokus khusus pada pelaporan sektor ekonomi, bisnis, dan finansial. Di maret.id, ia mendedikasikan perannya untuk mengulas dinamika pasar, kebijakan fiskal, perkembangan UMKM, hingga tren ekonomi makro global dan nasional. Dengan pendekatan yang tajam dan berbasis data, Aditya berkomitmen menyajikan informasi kompleks seputar dunia keuangan ke dalam ulasan yang mendalam, objektif, dan mudah dipahami oleh semua kalangan pembaca.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button