Netanyahu Ungkap Rencana Gulingkan Rezim Iran dengan Trump, Ketegangan Memanas!

Jakarta, Maret.id — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan telah mendiskusikan rencana menggulingkan pemerintahan Iran bersama Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan menegaskan komitmennya untuk mewujudkan tujuan tersebut.
Pernyataan itu disampaikan saat Netanyahu memberikan pidato di sebuah universitas di wilayah utara Israel pada Selasa, 20 Oktober 2026. Ia mengatakan pembahasan yang sama juga berlangsung dalam pertemuan beberapa hari sebelumnya.
Isi Pernyataan Netanyahu
Netanyahu menegaskan bahwa “kita harus menyelesaikan penggulingan rezim Iran” dan menyebutnya sebagai prioritas utama. Ia mengatakan pembicaraan tentang langkah tersebut telah terjadi “lebih dari sekali, termasuk dua hari yang lalu” bersama Presiden AS.
Pernyataan langsung itu menekankan kembali sikap keras Israel terhadap pemerintahan Iran yang dianggapnya sebagai ancaman strategis. Netanyahu juga menegaskan bahwa upaya politik dan keamanan akan terus menjadi bagian dari strategi Israel.
Dampak Regional yang Diungkapkan
Menurut Netanyahu, perubahan rezim di Iran tidak hanya akan berdampak pada Teheran tetapi juga akan membuka jalan untuk menghapus keberadaan kelompok Hizbullah dan memungkinkan tercapainya perdamaian antara Israel dan Lebanon. Pernyataan semacam ini berpotensi menambah ketegangan di kawasan yang sudah rentan terhadap konflik berkepanjangan.
Pengamat menyatakan bahwa klaim tersebut memunculkan sejumlah pertanyaan tentang konsekuensi militer, politik, dan kemanusiaan di wilayah Timur Tengah. Setiap langkah yang diarahkan ke perubahan rezim di negara lain hampir pasti memicu respons dari aktor-aktor regional dan global.
Konteks Politik Menjelang Pemilu
Pernyataan Netanyahu datang menjelang pemilihan legislatif Israel yang dijadwalkan pada 27 Oktober 2026, saat hubungan dekat dengan pejabat asing menjadi salah satu modal politiknya. Dukungan eksternal dan kemitraan strategis telah sering dimanfaatkan dalam kampanye politik di Israel.
Namun pekan lalu Netanyahu juga menegaskan bahwa ia tidak mendukung serangan pendahuluan terhadap Iran, sebagai bantahan terhadap tudingan lawan politik yang menilai ia mendorong konfrontasi demi kepentingan elektoral. Pernyataan itu dimaksudkan untuk meredam kekhawatiran domestik terkait kemungkinan eskalasi militer.
Jejak Konflik dan Pernyataan Sebelumnya
Netanyahu sebelumnya pernah menyerukan rakyat Iran memanfaatkan peluang untuk meraih kebebasan selama konflik singkat pada 2025 yang berlangsung selama 12 hari. Seruan serupa kembali disuarakan ketika Israel dan AS melancarkan serangan terhadap sasaran terkait Iran pada Februari 2026.
Kata-kata dan tindakan para pemimpin ini terus menjadi titik fokus perdebatan internasional mengenai stabilitas regional dan hukum internasional. Respon negara-negara lain serta komunitas internasional kemungkinan akan menentukan bagaimana klaim dan rencana tersebut berkembang di masa mendatang.





