Inggris-Prancis pimpin latihan militer 12 negara, memanas ketegangan Rusia

Jakarta, Maret.id — Inggris dan Prancis akan memimpin latihan militer berskala besar di Polandia pada 9–22 November 2026 untuk menguji kesiapan pengerahan pasukan multinasional ke Ukraina apabila tercapai kesepakatan damai.
Latihan yang dinamai “Koalicja” direncanakan melibatkan puluhan unit dari 12 negara Eropa dengan total hampir 3.000 personel, menyasar skenario pemindahan pasukan, perlindungan area belakang, dan logistik skala besar. Beberapa negara peserta akan menurunkan unit darat, angkatan laut dan udara, serta aset untuk pembersihan ranjau di jalur pelayaran Laut Hitam.
Menteri pertahanan Inggris Wes Streeting menegaskan latihan ini bukan sekadar rencana di atas kertas dan merupakan upaya nyata untuk menyiapkan kekuatan yang dapat dikerahkan saat pertempuran berhenti. “Ini bukan rencana hipotetis, melainkan kekuatan nyata yang siap membantu Ukraina begitu pertempuran berhenti,” kata Streeting dalam pernyataannya kepada wartawan.
Skala dan komponen latihan
Koalicja akan melibatkan sekitar 2.800 personel yang dikerahkan di darat, laut, dan udara, termasuk kontribusi sekitar 300 tentara Inggris serta sepasang pesawat tempur RAF Typhoon sebagai bagian dari unsur udara. Selain itu, Turki direncanakan memimpin operasi maritim untuk pembersihan ranjau demi mengamankan jalur perdagangan di Laut Hitam.
Latihan tersebut juga akan menguji sistem komando dan kendali gabungan antar-negara, interoperabilitas logistik, dan prosedur pemantauan ketika transisi dari operasi tempur ke fase pasca-konflik berlangsung. Skenario latihan dibuat agar mendekati kondisi nyata pengerahan pasukan multinasional dalam lingkungan yang kompleks secara politik dan operasional.
Batasan misi dan jaminan keamanan
Pejabat negara-negara peserta menegaskan bahwa pengerahan pasukan internasional dalam latihan ini tidak dimaksudkan sebagai misi tempur ofensif, bukan pemantau gencatan senjata, dan tidak berada di bawah komando langsung NATO. Kehadiran pasukan dimaksudkan sebagai jaminan keamanan jangka panjang di wilayah belakang serta bantuan rekonstruksi dan pembangunan kapasitas angkatan bersenjata Ukraina.
Namun, terdapat kerahasiaan relatif pada ketentuan aturan keterlibatan (rules of engagement) jika pasukan internasional menghadapi serangan, meskipun pihak penyelenggara menegaskan hak untuk melakukan tindakan pembelaan diri. Faktor tersebut tetap menjadi salah satu isu sensitif yang perlu disepakati sebelum pengerahan penuh dapat berlangsung.
Reaksi Moskow dan tantangan politik
Pemerintah Rusia menyatakan penolakan tegas terhadap penempatan pasukan asing di wilayah Ukraina dan memperingatkan bahwa pasukan asing yang memasuki wilayah itu akan diperlakukan sebagai target sah. Pernyataan tersebut menambah tekanan politik dan risiko eskalasi yang harus dipertimbangkan oleh negara-negara pengirim.
Amerika Serikat disebut turut memantau perkembangan dan terlibat dalam diskusi politik terkait latihan, meski memilih untuk tidak menyumbangkan pasukan ke dalam rangkaian Koalicja. Para analis mencatat bahwa pelaksanaan misi semacam ini masih diwarnai ketidakpastian politik dan logistik yang signifikan, karena keputusan akhir sangat bergantung pada kondisi penghentian permusuhan.
Langkah perencanaan Koalicja menggambarkan upaya kolektif Eropa untuk mempercepat kesiapan pasukan dan mekanisme dukungan pasca-konflik bagi Ukraina, namun waktu dan bentuk realisasinya tetap bergantung pada dinamika di lapangan dan kesepakatan politik yang dapat dicapai di masa mendatang.





