Memanas: PBB Desak Lepaskan Aktivis Sumud Flotilla, Dunia Hadapi Ketegangan!

Jakarta, Maret.id — Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan keprihatinan terhadap keselamatan sejumlah aktivis Global Sumud Flotilla (GSF) yang ditangkap saat pasukan Israel menyergap seluruh kapal dalam konvoi bantuan kemanusiaan menuju Jalur Gaza pada Senin (18/5/2026).
Kekhawatiran PBB atas keselamatan aktivis
Juru Bicara Sekretaris-Jenderal PBB Stéphane Dujarric menyampaikan keprihatinan mendalam terkait nasib orang-orang di kapal tersebut.
“Dipastikan bahwa mereka harus dilindungi dan tetap aman,” ujar Dujarric dalam konferensi pers pada Selasa (19/5/2026).
Dujarric menegaskan bahwa keselamatan semua pihak harus menjadi prioritas utama dalam setiap operasi di laut.
Pernyataan itu muncul setelah penyergapan yang menyita perhatian komunitas internasional karena menimpa konvoi bantuan kemanusiaan.
Isu kepatuhan terhadap hukum internasional
PBB mengingatkan bahwa hukum internasional di laut lepas wajib dipatuhi oleh semua pihak yang beroperasi di perairan internasional.
Menurut Dujarric, tindakan terhadap flotilla tersebut perlu ditelaah lebih jauh untuk menentukan apakah seluruh ketentuan hukum internasional telah dihormati.
Ditanya apakah Sekretaris-Jenderal PBB António Guterres akan menyatakan kejadian itu sebagai pelanggaran hukum internasional, Dujarric menjelaskan bahwa pihaknya masih melakukan peninjauan.
“Dari keterangan awal, tampaknya tidak sepenuhnya mengindahkan hukum internasional,” kata Dujarric.
Seruan agar hambatan bantuan dihilangkan
Juru bicara PBB juga kembali menyerukan agar otoritas Israel tidak membatasi jalur masuk bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Dujarric menekankan bahwa cara terbaik menyalurkan bantuan adalah melalui jalur resmi dan aman.
Ia mengajak agar segala rintangan yang menghambat masuknya bantuan dihapuskan agar aliran bantuan bisa meningkat.
Tanpa penghapusan hambatan tersebut, upaya PBB dan organisasi kemanusiaan lain untuk mengirimkan bantuan yang diperlukan akan terus terhalang.
Kondisi kemanusiaan di Gaza yang memprihatinkan
Dujarric menyoroti sejumlah kekurangan kritis yang menghambat pemulihan dan bantuan di Gaza, termasuk kelangkaan suku cadang untuk instalasi generator dan stasiun pompa.
Ia juga mengingatkan masalah timbunan sampah padat serta minimnya material untuk membangun kembali hunian berskala besar setelah kerusakan berkepanjangan.
PBB memperingatkan bahwa tanpa ketersediaan suku cadang dan bahan bangunan, upaya pemulihan infrastruktur dasar akan terhambat.
Kondisi tersebut berisiko memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah berlangsung di wilayah yang diblokade tersebut.
Imbas diplomasi dan pengawasan internasional
Penyergapan terhadap flotilla diperkirakan akan memicu perhatian diplomatik yang lebih luas dari berbagai negara dan forum internasional.
PBB menyatakan akan terus memantau perkembangan dan mengumpulkan informasi sebelum mengambil langkah-langkah lanjutan.
Sampai peninjauan selesai, organisasi internasional mendesak agar semua pihak menahan diri dan memastikan hak-hak dasar serta keselamatan warga sipil terlindungi.
PBB menegaskan komitmennya untuk bekerja sama dengan aktor-aktor terkait demi kelancaran akses kemanusiaan dan kepatuhan terhadap hukum internasional.





