De Jong Siap Hadapi Maroko di Laga Melawan Singa

Jakarta, Maret.id — Piala Dunia Frenkie de Jong menghadapi kritik tajam setelah timnya, Belanda, kalah dari Maroko di babak gugur. Sebelumnya, De Jong, bintang Barcelona, telah membela gaya permainannya menjelang turnamen, tetapi penampilan buruknya menjadi sasaran analisis negatif.
Pernyataan De Jong saat itu, “Banyak orang menonton sepak bola tetapi tidak memahaminya,” kini berbalik menimpanya. Ia menerima kritik keras dari mantan rekan satu tim di tim nasional.
Rafael van der Vaart, mantan pilar Real Madrid dan Ajax, berkata, “Frenkie de Jong memainkan pertandingan terburuk yang pernah saya lihat darinya.” kata van der Vaart. Kritikan tersebut juga menyentuh strategi pelatih Ronald Koeman.
“Strategi itu benar-benar mengecewakan, tetapi itu juga karena strateginya,” tambah van der Vaart. “Kami lolos dari babak grup dengan baik, lalu tiba-tiba mengubah gaya bermain sepenuhnya saat melawan Maroko. Saya sama sekali tidak mengerti hal itu.”
Jan Molder, mantan penyerang Belanda dan Ajax, menilai De Jong bermain terlalu berhati-hati. “Saya hanya melihat umpan-umpan ke samping darinya, saya salah menilai dia,” ujar Molder.
Ibrahim Afellay, mantan pemain Barcelona, juga menyoroti bahwa “pertandingan seperti ini ditentukan di lini tengah, dan Maroko-lah yang menentukannya.”
Kritik pedas ini datang setelah De Jong sempat membela diri usai kemenangan meyakinkan 5-1 atas Swedia. Ia menyatakan, “Saya merasa banyak orang tidak memahami apa-apa tentang sepak bola.” ujar De Jong.
Namun, statistik menunjukkan bahwa De Jong memiliki kontribusi positif di pertandingan sebelumnya. Berdasarkan data dari “Volkstrand,” De Jong mencatat 38 umpan ke depan dan 40 penetrasi ke depan dengan bola selama tiga pertandingan melawan Jepang, Swedia, dan Tunisia.
“Football International” juga mencatat bahwa Belanda mencetak lebih dari setengah gol per pertandingan saat De Jong bermain.
Menyusul penampilan mengecewakan tim Belanda, pengamat sepak bola Indonesia, David Da Silva, memberikan pandangannya. “Analisis terhadap De Jong sebenarnya adil, tetapi kita juga harus melihat faktor eksternal yang mempengaruhi performa tim secara keseluruhan,” kata David. Ia melanjutkan, “Pertandingan ini menjadi pelajaran berharga bagi kita bahwa gaya bermain harus seimbang, baik defensif maupun ofensif.”





