Politik

Ketum Muhammadiyah Desak Iduladha Jadi Momentum Perbaikan Moral Bangsa!

Jakarta, Maret.id — Dalam pernyataannya pada Rabu, 27 Mei 2026, Haedar Nasir, Ketua Umum Muhammadiyah, menegaskan bahwa Iduladha seharusnya tidak dimaknai hanya sebagai ritual formal, melainkan sebagai penguatan spiritualitas dan moralitas individu. Ia menekankan pentingnya memahami substansi utama dari Hari Raya Iduladha sebagai suatu proses pembentukan karakter manusia yang bertakwa kepada Allah SWT.

Makna Spiritual Iduladha

Ia mengingatkan bahwa Allah lebih mengutamakan ketakwaan dari umat-Nya ketimbang daging dan darah hewan kurban. “Substansi Iduladha adalah penguatan spiritualitas dan moralitas,” ujarnya. Menurut Haedar, teladan dari Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Nabi Ismail menggambarkan spiritualitas yang seharusnya menjadi inspirasi bagi setiap individu Muslim untuk memiliki jiwa pengorbanan dan kepatuhan yang penuh kebajikan.

“Hikmah dari pengorbanan Nabi Ibrahim dan keteguhan iman Siti Hajar mendasari nilai-nilai etik yang harus tertanam dalam diri umat. Ketiga sosok ini menjadi uswah hasanah dalam pengembangan karakter yang penuh rasa syukur dan kepatuhan,” jelasnya.

Pentingnya Moralitas di Ruang Publik

Dalam konteks lingkungan sosial dan publik, Haedar menggarisbawahi perlunya akhlak mulia yang patut ditampilkan, termasuk di media sosial. Ia menyatakan bahwa individu yang bertakwa harus mampu menjaga perilaku komunikasi, serta menghindari berita palsu, ujaran kebencian, dan fitnah yang dapat merusak persatuan bangsa.

“Ketakwaan harus tercermin dalam interaksi di media sosial, dalam usaha menjaga persatuan, serta menghormati perbedaan,” katanya. Penyampaian yang bijaksana dan efektif di ruang publik adalah kunci dalam membangun ukhuwah dan kebersamaan.

Menjawab Tantangan Moral dan Sosial

Haedar juga tidak luput untuk menyoroti sejumlah masalah serius yang dihadapi bangsa Indonesia, antara lain kesenjangan sosial, korupsi, serta perilaku serakah yang berasal dari krisis moral. Ia menegaskan bahwa keinginan untuk menguasai segalanya secara berlebihan dapat merugikan orang lain, bahkan lingkungan.

“Bangsa ini harus bangkit dari krisis spiritualitas yang melahirkan kebajikan dan keadilan sosial. Ini adalah momentum bagi kita untuk merevitalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya. Ia berharap Iduladha dapat menjadi titik balik untuk Transformasi moral yang lebih baik bagi masyarakat.

Seraya menekankan pentingnya tindakan nyata, Haedar mengingatkan bahwa ketakwaan bukan hanya sekadar ungkapan, melainkan harus tampak dalam kebijakan dan perilaku sehari-hari. “Kesadaran spiritual harus diutamakan dalam semua tindakan kita,” tutupnya.

Dalam pesan khusus kepada generasi milenial, generasi Z, dan generasi Alfa, ia juga mengativasi agar mereka menjadikan Iduladha sebagai kesempatan untuk membentuk karakter yang unggul, peka terhadap ilmu pengetahuan, serta memperhatikan akhlak dan etika dalam berinteraksi. “Generasi muda tidak seharusnya terbawa arus budaya instan dan hedonistik. Mari kita bangun generasi yang cerdas dan berintegritas,” ajaknya dengan penuh harapan.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button