Rupiah Ambruk di Akhir Perdagangan Mei 2026, Terendah Sepanjang Sejarah!

Jakarta, Maret.id — Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap Dolar AS pada perdagangan hari ini, dengan posisi mencapai Rp17.881 per Dolar AS. Ini mencerminkan penurunan sebesar 0,2 persen dibandingkan dengan penutupan sebelumnya yang berada di angka Rp17.846 per Dolar AS.
Performansi Pasar Saham yang Menurun
Sementara itu, pasar saham domestik juga turut terpukul dengan pergerakan yang negatif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup mengalami penurunan sebesar 0,05 persen, berada pada level 6.127.
Berdasarkan data yang dirilis oleh Bursa Efek Indonesia (BEI), volume perdagangan hari ini tercatat mencapai 46 miliar saham dengan total nilai transaksi sebesar Rp48 triliun. Frekuensi perdagangan tercatat mencapai 2,3 juta kali transaksi.
Mayoritas Saham Melemah
Mayoritas saham di bursa efek menunjukkan performansi yang mengecewakan, dengan 409 saham ditutup pada zona merah. Di sisi lain, sebanyak 271 saham berhasil menguat, sementara 137 saham lainnya tetap stagnan dan belum menunjukkan perubahan.
Para analis pasar memperkirakan, kondisi yang dihadapi rupiah dan IHSG akan terus dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal dan internal. Ketidakpastian di pasar global, serta kebijakan ekonomi yang diambil oleh pemerintah, menjadi perhatian utama bagi investor saat ini.
Reaksi Investor terhadap Perkembangan Ekonomi
Investor menanggapi dengan hati-hati terhadap perkembangan ekonomi yang sedang berlangsung, terutama yang berkaitan dengan potensi inflasi dan suku bunga. Dalam situasi ini, optimisme terhadap kebangkitan ekonomi Indonesia masih ada, namun para pelaku pasar tetap menantikan langkah-langkah kebijakan yang jelas dari pemerintah guna mengatasi tantangan ini.
Sebagai catatan, situasi ini berlangsung di tengah dinamika politik dan sosial yang mempengaruhi iklim investasi di Tanah Air. Dalam wawancaranya, seorang analis pasar mengatakan, “Apa yang kita butuhkan sekarang adalah stabilitas, baik dari segi ekonomi maupun politik, untuk menarik kembali minat investasi.





