Manuver Lora Muda: Sinyal Baru PDI Perjuangan

Jakarta, Maret.id — Lora Mohammad Ainul Yaqin, cucu pengasuh Ponpes Al-Utsmani Bondowoso, telah memasuki dunia politik lewat PDI Perjuangan. Ia mengambil langkah ini untuk memperjuangkan aspirasi petani dan masyarakat kecil di daerahnya.
Moment Bersejarah di Surabaya
Pada suatu siang di bulan April yang lalu, suasana di sebuah hotel di Surabaya terasa berbeda ketika ratusan kader dan fungsionaris PDI Perjuangan dari berbagai penjuru Jawa Timur berkumpul untuk acara halalbihalal. Pertemuan yang berlangsung dengan suasana hangat dan penuh canda ini menjadi momen penting, terutama setelah pesan mengitung dari Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Said Abdullah. Ia mengajak tokoh-tokoh Islam dan kalangan pesantren untuk menjadikan PDI Perjuangan sebagai rumah politik bersama.
Pesan tersebut diakui bukan sekadar ucapan, melainkan mengandung arti yang dalam bagi masyarakat Jawa Timur. Sejak lama, daerah ini dikenal dengan perpaduan sosial antara kaum nasionalis dan kaum santri. Hubungan “ijo-abang” yang telah ada sejak sejarah panjang ini tumbuh dari kampung-kampung, sawah, dan langgar, serta ruang pertemuan sederhana yang menjadi tempat bagi tujuan bersama.
Langkah Politikal Lora Yaqin di Bondowoso
Menariknya, gema dari pernyataan tersebut sampai ke Kabupaten Bondowoso, di mana seorang anak muda bernama Mohammad Ainul Yaqin mulai memantapkan langkahnya dalam politik. Dikenal sebagai Lora Yaqin, ia bukan sosok asing di dunia pesantren. Lora Yaqin adalah cucu dari Kiai Ghazali, pengasuh Pondok Pesantren Al-Utsmani, tempat ribuan santri menuntut ilmu.
Ketika Yaqin memutuskan untuk memimpin Pengurus Anak Cabang (PAC) PDI Perjuangan, langkahnya dianggap mengejutkan bagi sebagian orang. Namun, keputusan ini tidak diambil secara impulsif. Yaqin melalui proses panjang yang melibatkan diskusi, pertimbangan, serta restu dari kiai sepuhnya. Ia mengenang bahwa tawaran untuk menjadi Ketua PAC disampaikan langsung oleh Kiai kepada Ketua DPC, Mas Sinung.
Kepedulian Sosial Melalui Politik
Restu seorang kiai memegang peranan penting dalam kultur pesantren, dianggap sebagai arahan dan doa. Dengan dukungan tersebut, Yaqin merasakan tanggung jawab yang besar untuk tidak hanya menjabat secara struktural, tetapi juga untuk membawa suara rakyat ke meja pemerintahan. Dia meyakini bahwa kepedulian sosial tidak cukup disuarakan dari mimbar, tetapi memerlukan ruang politik yang lebih luas.
Yaqin mendengar langsung keluhan petani mengenai harga pupuk yang terus meningkat dan bagaimana buruh tani berjuang agar dapat bertahan saat musim tanam. Persoalan-persoalan tersebut ia alami secara langsung, dari obrolan sederhana di teras rumah hingga percakapan selepas salat. Kesadarannya tumbuh, bahwa ia harus berperan aktif dalam memperjuangkan nasib masyarakat yang sering kali tidak terdengar suaranya.
Bagi Yaqin, politik adalah alat perjuangan, bukan sekadar perebutan kekuasaan. Dia melihatnya sebagai jalan untuk membawa aspirasi petani dan masyarakat kecil ke perhatian pengambil keputusan. Dalam konteks ini, keberaniannya untuk melangkah ke arena politik patut dicontoh.
Kisah Lora Yaqin menjadi menarik, terutama di saat banyak anak muda menjauh dari politik. Ia memilih untuk mendekatkan diri, tidak karena ambisi, melainkan karena kepedulian yang mendalam terhadap kondisi masyarakat. Kini, langkahnya dari pesantren menuju panggung politik menjadi harapan bahwa suara-suara kecil dari desa dapat terdengar hingga ke ruang-ruang pembuat kebijakan.





