SBY Bongkar Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI!

Jakarta, Maret.id — Analis Politik dan Militer dari Universitas Nasional (UNAS), Selamat Ginting, memberikan penghormatan kepada Ryamizard Ryacudu yang berpulang pada usia 76 tahun pada hari Minggu, 31 Mei 2029. Dengan pengalaman yang luas dalam dunia militer dan politik, Ryamizard dikenang sebagai sosok yang memiliki keberanian dalam menyampaikan pendapat meskipun sering berada dalam posisi berbeda dari pemerintah.
Pembatalan Usulan Megawati
Selamat Ginting mengingat bahwa Megawati Soekarnoputri pernah mengusulkan penempatan Ryamizard dalam posisi strategis. Namun, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) membatalkan usulan tersebut dengan memperpanjang masa jabatan Jenderal TNI Endriartono Sutarto sebagai Panglima TNI. Ginting kemudian menyebutkan bahwa, dalam perkembangan lebih lanjut, Presiden SBY malah menunjuk Marsekal Djoko Suyanto sebagai Panglima TNI, menggugurkan opsi lain yang mungkin tersedia.
Ginting menekankan bahwa ketidakselarasan pandangan tersebut menyoroti konsistensi Ryamizard dalam menegakkan keyakinan strategisnya. “Meskipun Ryamizard tidak selalu sepakat dengan keputusan politik pemerintah, ia tetap menghormati supremasi sipil sebagai panglima tertinggi dalam sistem demokrasi,” ujar Ginting, menunjukkan integritas yang dimiliki oleh mendiang.
Pemakaman secara Militer
Ryamizard Ryacudu dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama (TMPNU) Kalibata, Jakarta, pada 1 Juni 2026. Upacara pemakaman tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh, baik dari kalangan militer maupun sipil, sebagai penghormatan terakhir kepada sosok yang telah berbakti kepada bangsa dan negara.
Sebelum keberangkatannya menuju peristirahatan terakhir, jenazah mendiang disemayamkan di Kementerian Pertahanan. Langkah ini mencerminkan penghormatan negara atas pengabdian panjang Ryamizard kepada TNI dan rakyat Indonesia. Antrian masyarakat yang ingin memberikan penghormatan terakhir pun terlihat, mencerminkan betapa besarnya pengaruh dan dedikasi yang telah diberikan oleh Ryamizard selama hidupnya.
Mewarisi Legacy
Kepergian Ryamizard meninggalkan banyak kenangan dan pelajaran, terutama dalam konteks hubungan antara militer dan sipil di Indonesia. Berbagai pendapat yang disampaikannya saat menjabat menunjukkan betapa pentingnya keberanian dalam mengambil sikap atas prinsip, meskipun dalam lingkungan yang penuh tekanan politik.
Dengan kepergiannya, Ryamizard diingat bukan hanya sebagai seorang jenderal, tetapi juga sebagai sosok yang berkomitmen atas kebijakan dan pandangannya yang selalu selaras dengan kepentingan nasional. Pembicaraan mengenai legasinya kemungkinan besar akan berlanjut, menciptakan diskusi yang lebih luas tentang peran militer dalam politik Indonesia.





