Manuver Bupati Kediri: Harapan Baru Mbah Mari!

Jakarta, Maret.id — Mbah Mari, warga Desa Manggis, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, merasakan kebahagiaan yang mendalam setelah menerima bantuan rombong kontainer untuk usaha penjualan es teh dan kopi. Bantuan ini menjadi harapan baru bagi kakek berusia 61 tahun yang selama ini mengasuh cucu berkebutuhan khusus.
Harapan di Tengah Kesulitan
Musim kemarau menjadi tantangan tersendiri bagi Mbah Mari. Hujan yang semakin jarang dan tanah yang kehilangan kelembapan membuat perjalanan ke hutan semakin berat. Sejak ia hidup dari mencari sayuran liar di hutan, hasil yang didapatkan semakin minim, bahkan sering kali berkurang drastis.
“Selama musim kemarau ini, sayuran yang saya dapatkan sangat sedikit. Kadang hanya sekali dalam seminggu,” ungkapnya. Kebutuhan hidup yang tetap tinggi, di tengah kesulitan ini, semakin menambah beban pikiran Mbah Mari yang juga harus menghidupi cucunya, Muhammad Alza Octaviana, yang memerlukan perhatian khusus.
Kontainer sebagai Simbol Harapan
Hari Selasa, 2 Juni 2026, menjadi momen bersejarah bagi Mbah Mari. Setelah kunjungan Bupati Kediri, Hanindhito Himawan Pramana, yang menjanjikan bantuan, rombong kontainer tiba di depan rumahnya. Penyerahan tersebut memberikan kebahagiaan yang nyata bagi Mbah Mari.
“Itu bukan barang mewah. Tapi bagi saya, rombong ini adalah harapan yang baru,” katanya dengan senyum bahagia. Rombong tersebut rencananya akan digunakan untuk menjajakan es teh dan kopi, diharapkan dapat memberikan tambahan penghasilan tanpa harus bergantung pada hasil hutan yang tidak menentu.
Pembangunan Rumah yang Lebih Layak
Kebahagiaan Mbah Mari tidak hanya dari bantuan rombong tersebut. Dalam sebulan terakhir, Pemerintah Kabupaten Kediri juga melakukan perbaikan pada rumahnya yang sebelumnya bocor saat hujan. Kini, rumahnya terasa lebih nyaman dan layak dihuni.
“Dulu setiap kali hujan deras, rumah ini bocor di mana-mana. Sekarang semuanya sudah diperbaiki,” ungkap Mbah Mari. Perbaikan rumahnya menjadi bagian dari perubahan hidup yang kini mulai ia rasakan.
Dengan harapan baru dan upaya untuk mendirikan usaha, Mbah Mari bertekad untuk melewati masa-masa sulit tersebut. Ia merasa optimis bahwa kehadiran rombong kontainer akan membawa berkah bagi keluarganya. “Mudah-mudahan usaha saya lancar dan bisa berkembang,” harapnya.
Bagi Mbah Mari, rombong tersebut bukan hanya sekadar alat berniaga; ia menjadi simbol bahwa harapan kadang datang dalam bentuk sederhana. Dengan tekad dan dukungan lingkungan sekitarnya, Mbah Mari kini menata mimpi baru untuk masa depan yang lebih baik.





