MBG Terbongkar Skandal Besar, Rupiah dan IHSG Terjunkan Dolar!

Jakarta, Maret.id — Ekonom dari Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menyatakan bahwa tekanan terhadap nilai tukar Rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari ini masih utama dipicu oleh kekhawatiran pasar mengenai situasi fiskal Indonesia yang dinilai memprihatinkan. Hal ini disebabkan oleh besarnya anggaran untuk program-program prioritas pemerintah, yang diimbangi dengan defisit anggaran yang terus meluas.
Menurut Wijayanto, tren pelemahan Rupiah akibat isu fiskal yang tidak berkelanjutan masih sangat dominan. Ia menyebutkan bahwa hingga saat ini, pemerintah belum menunjukkan rencana konkret untuk memperbaiki kondisi tersebut. “Ini sangat mencemaskan bagi para investor,” tegasnya.
Pengaruh Terhadap Sentimen Pasar
Selain kondisi ekonomi, penurunan kepercayaan masyarakat juga terkait dengan pencopotan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, serta penggeledahan yang dilakukan oleh Kejaksaan Agung di kantor BGN. Peristiwa ini dianggap memperburuk sentimen negatif di kalangan publik.
“Isu di BGN turut memperparah situasi ini. Banyak pihak menilai bahwa permasalahan yang sama juga muncul di dalam program-program unggulan lainnya, seperti Koperasi Merah Putih dan Sekolah Rakyat,” ungkap Wijayanto. Ia berpendapat penting untuk mengusut berbagai persoalan dalam pelaksanaan program pemerintah, serta keterlibatan pihak-pihak terkait di lapangan.
Kondisi Rupiah dan IHSG
Berdasarkan data dari Bloomberg hingga pukul 13.30 WIB, Rupiah mengalami pelemahan sebesar 111 poin atau 0,53 persen, dengan nilai tukar mencapai Rp17.950 per Dolar AS. Angka tersebut mencerminkan salah satu titik terlemah nilai mata uang Garuda sepanjang sejarah.
Dalam waktu bersamaan, pasar saham domestik juga mengalami tekanan yang signifikan. Data dari RTI Business menunjukkan bahwa IHSG merosot sebanyak 334,8 poin atau 5,41 persen, menjadikannya di level 5.860. Nilai transaksi di Bursa Efek Indonesia tercatat mencapai Rp15,9 triliun, dengan volume perdagangan mencapai 27 miliar saham dan frekuensi transaksi mencapai 1,9 juta kali.
Tekanan di Berbagai Sektor
Tekanan jual terjadi secara merata di seluruh sektor saham. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 721 saham mengalami koreksi, sedangkan hanya 35 saham yang mengalami penguatan. Sebanyak 57 saham lainnya tetap stagnan.
“Situasi ini menunjukkan bahwa kondisi fundamental ekonomi dan kepercayaan pasar perlu segera diperbaiki. Jika tidak, kita berisiko menghadapi lebih banyak masalah di masa depan,” ujarnya. Wijayanto menekankan pentingnya tindakan cepat untuk merespons isu-isu fiskal demi stabilitas ekonomi Indonesia.





