Politik

Dugaan Korupsi BGN Terungkap, Program MBG Harus Dievaluasi dengan Serius!

Jakarta, Maret.id — Pengamat politik Hendri Satrio mengungkapkan bahwa ia telah memprediksi kemungkinan penghentian sementara program Majoe Berangasan Gizi (MBG) oleh Presiden Prabowo Subianto. Namun, menurutnya, langkah ini tidak dapat dilakukan secara sembarangan tanpa adanya faktor eksternal yang mendukung.

Dalam keterangannya di sebuah forum pada Kamis, 4 Juni 2026, Hendri, yang akrab disapa Hensa, menjelaskan bahwa sebagai program unggulan presiden, MBG memiliki kompleksitas dan risiko politik yang harus dipertimbangkan. “Saya pernah memprediksi bahwa suatu saat nanti Pak Prabowo akan menghentikan MBG. Tapi memang dia harus punya alasan untuk bisa menghentikan MBG itu tanpa harus datang dari diri dia sendiri,” ujarnya.

Pengaruh Faktor Eksternal

Hensa menekankan pentingnya adanya pemicu eksternal yang bisa menjadikan alasan valid bagi presiden untuk menghentikan program tersebut. “Artinya, dia tidak bisa menghentikan itu karena itu flagship programnya dia. Harus ada faktor eksternal yang akhirnya membuat dia menghentikan MBG,” tegasnya.

Di sisi lain, Hensa melihat bahwa langkah penghentian sementara bisa menjadi keuntungan politik bagi Prabowo Subianto. Melalui kebijakan ini, dia berpotensi tampil sebagai pahlawan dalam dua isu penting: pemberantasan korupsi dan pengelolaan anggaran negara. “Menghentikan MBG saat ini, Prabowo bisa menjadi pahlawan di dua hal. Pertama, pemberantasan korupsi. Kedua, menyelamatkan fiskal, karena biaya MBG mahal sekali,” jelasnya.

Pintu Masuk untuk Evaluasi Program

Hensa juga menggarisbawahi bahwa penetapan status tersangka terhadap Dadan Hindayana dan dua pejabat lainnya dapat menjadi momentum untuk mengevaluasi program MBG. “Nah, penetapan tersangka ini bisa jadi pintu masuk untuk mengevaluasi program MBG, sehingga bisa jadi akan dihentikan mungkin untuk sementara waktu,” ucapnya.

Lebih lanjut, Hensa berpendapat bahwa penghentian sementara program tersebut justru memberikan kesempatan bagi pemerintah untuk melakukan perbaikan sebelum program diaktifkan kembali. “Dengan dihentikannya MBG, Pak Prabowo punya waktu untuk mengevaluasi dan bisa dilakukan lagi di tahun-tahun berikutnya, misalnya mendekati Pemilu, tanpa harus membebani fiskal,” tambahnya.

Strategi Komunikasi dalam Politik

Dalam konteks politik yang lebih luas, Hensa menyoroti pentingnya strategi komunikasi pemerintah untuk menjaga persepsi publik terhadap program MBG. Ia mengungkapkan bahwa meski MBG merupakan program unggulan presiden, Badan Gizi Nasional (BGN) sejatinya telah dibentuk pada masa pemerintahan sebelumnya.

“Walaupun MBG adalah program flagship Presiden, tapi di tangan yang tepat spindoctoring bisa dilakukan. Apalagi, BGN kan lembaga yang dibentuk oleh Presiden sebelumnya,” pungkasnya. Hensa menutup pembicaraan dengan menekankan bahwa evaluasi mendalam terhadap MBG adalah langkah penting bagi keberlanjutan program dan pengelolaan anggaran negara.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button