Politik

Film Pesta Babi Diusut Sebagai Alat Propaganda Memecah Belah Papua!

Jakarta, Maret.id — Pernyataan terkait film “Pesta Babi” yang belakangan ini ramai diperbincangkan datang dari Rico Marbun, alumnus S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS) di Singapura. Marbun menilai bahwa film tersebut tidak hanya sekadar kritik sosial, melainkan memiliki potensi yang lebih luas dalam konteks politik identitas.

Pemutaran Film “Pesta Babi” sebagai Isu Politik

Marbun mengungkapkan bahwa film tersebut dipromosikan dan diputar dalam berbagai forum dengan cara yang menunjukkan kecenderungan kampanye politik identitas. Ia menekankan bahwa hal ini dapat memperlebar jurang antara Papua dan sisa wilayah Indonesia. “Framing semacam itu bukan sekadar kritik terhadap kebijakan negara. Narasi Indonesia sebagai penjajah memiliki konsekuensi politik yang sangat serius,” kata Marbun, selama konferensi pers di Jakarta pada 5 Juni 2026.

Dampak Narasi pada Hubungan Papua dan Indonesia

Marbun merinci bahwa ada dua tujuan utama dari narasi yang diusung oleh film ini. Pertama, ia berupaya membangun persepsi internasional bahwa Papua merupakan wilayah yang sedang dijajah. Kedua, film ini menciptakan jarak psikologis antara masyarakat Papua dan masyarakat Indonesia lainnya. “Padahal rakyat Papua adalah bagian dari perjalanan panjang bangsa Indonesia. Mereka adalah saudara sebangsa yang juga memiliki kontribusi dalam perjuangan dan pembangunan nasional,” tegasnya.

Pentingnya Ruang Demokrasi dan Dialog Konstruktif

Rico Marbun juga menekankan pentingnya menjaga ruang demokrasi, termasuk hak masyarakat untuk menyampaikan kritik. Ia menyarankan agar lebih banyak dialog konstruktif diadakan, daripada terus-menerus membangun narasi yang berpotensi memperdalam permusuhan. “Papua membutuhkan lebih banyak ruang dialog yang konstruktif, bukan narasi yang terus-menerus membangun permusuhan dan memisahkan masyarakat Papua dari keluarga besar bangsa Indonesia,” imbuh Marbun.

Pernyataan ini menggambarkan tantangan yang dihadapi dalam mengelola sensitivitas politik dan sosial di Indonesia, terutama terkait isu-isu yang melibatkan Papua.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button