Politik

Bank Indonesia Bertanggung Jawab Penuh atas Pelemahan Rupiah yang Memparah!

Jakarta, Maret.id — Bank Indonesia (BI) diharapkan dapat lebih transparan dalam menjelaskan kebijakan-kebijakan yang diambil guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (Badko HMI) Jawa Timur, Yusfan Firdaus, yang menekankan pentingnya pemahaman publik terkait pembagian tanggung jawab dalam pengelolaan ekonomi nasional.

Pentingnya Akuntabilitas Kebijakan Moneter

Yusfan mengungkapkan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah semestinya merupakan salah satu fokus utama BI. Ia menyatakan, “Persoalan melemahnya nilai tukar rupiah adalah ranah yang menjadi tanggung jawab Bank Indonesia sebagai otoritas moneter.” Menurutnya, BI seharusnya tidak terus menerus menjadikan kondisi global sebagai alasan untuk menjelaskan pelemahan rupiah, karena sebagai lembaga independen, BI perlu memberikan pertanggungjawaban yang jelas kepada masyarakat.

Lebih lanjut, Yusfan meminta agar BI secara terbuka menjelaskan arah kebijakan moneter yang diambil. Ia menjelaskan bahwa transparansi sangat krusial untuk menghindari spekulasi dan kebingungan di kalangan masyarakat serta pelaku usaha. “Independensi tidak boleh dimaknai sebagai kebebasan tanpa evaluasi dan tanpa pertanggungjawaban kepada rakyat,” tuturnya.

Konsolidasi untuk Evaluasi Kebijakan

Sebagai bagian dari tanggung jawabnya, BADKO HMI Jawa Timur merencanakan Konsolidasi Mahasiswa Jawa Timur yang bertujuan membahas kondisi ekonomi nasional saat ini. Melalui kegiatan ini, mereka ingin merumuskan langkah advokasi terkait kebijakan moneter yang dirasa perlu dievaluasi. “Kami akan mendorong evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan Bank Indonesia serta meminta pertanggungjawaban yang jelas atas upaya menjaga stabilitas nilai rupiah,” imbuh Yusfan.

Dinamik Nilai Tukar Rupiah di Pasaran

Perlu dicatat bahwa nilai tukar rupiah menghadapi tantangan dalam pembukaan perdagangan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada Senin, 8 Juni 2026, nilai tukar rupiah dibuka melemah 79,50 poin (0,44%) ke level Rp18.115 per dolar AS, berdasarkan data dari Bloomberg. Tampak juga bahwa indeks dolar AS menunjukkan kekuatan dengan kenaikan 0,02% ke level 100.091.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah pada hari perdagangan sebelumnya, yaitu Jumat, 5 Juni 2026, sempat menguat 13 poin di level Rp18.036 setelah mengalami melemahnya 17 poin. Perubahan ini menunjukkan fluktuasi yang terjadi dan pentingnya langkah-langkah kebijakan yang transparan dari BI untuk memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap stabilitas ekonomi.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button