Said Iqbal Masuk Istana, Siap Menjadi Penasihat Presiden!

Jakarta, Maret.id — Said Iqbal, seorang tokoh buruh nasional, mempersiapkan diri untuk pelantikannya sebagai penasihat khusus Presiden Republik Indonesia di bidang ketenagakerjaan. Penantian ini berlanjut setelah Iqbal menerima undangan pelantikan pada malam Minggu, 7 Juni 2026, dari Sekretaris Kabinet, Letkol Teddy Indra Wijaya.
Pelantikan dan Posisi Baru
Pada sekitar pukul 15.50 WIB, Iqbal tampak mengenakan jas hitam, peci, serta dasi biru sebelum memasuki gerbang Istana. Dalam pernyataannya kepada wartawan, ia menjelaskan posisi barunya, yang setingkat dengan menteri, sesuai dengan regulasi yang ada. “Menurut Perpres nomor 137 tahun 2024, ataupun 106 tahun 2025, kedudukan saya setingkat dengan Menteri. Tentu saja, saya akan memberikan masukan kepada Presiden bila diminta maupun tidak,” ungkapnya.
Keputusan Melalui Diskusi
Said Iqbal menjelaskan bahwa keputusan untuk menerima posisi ini tidak diambil sembarangan. Ia dan jajaran Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) telah berdiskusi mengenai ini. “Kami memutuskan untuk berjuang melalui dalam sistem. Saya percaya keberpihakan Presiden Prabowo Subianto kepada rakyat kecil termasuk buruh, petani, nelayan, dan guru mendorong kami untuk memberikan masukan yang konstruktif,” tegas Iqbal.
Rekam Jejak Buruh yang Kuat
Said Iqbal lahir di Jakarta pada 5 Juli 1968 dan memiliki riwayat panjang dalam gerakan buruh. Ia memulai kariernya di dunia pekerja pada tahun 1992 di sebuah perusahaan elektronik di Kabupaten Bekasi. Dari sana, karier organisasinya melejit, termasuk menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) antara tahun 1999 dan 2006, sebelum akhirnya memimpin KSPI.
Iqbal juga memiliki latar belakang pendidikan yang kuat, sebagai alumnus SMA Negeri 51 Jakarta, Diploma 3 Teknik Mesin dari Politeknik Negeri Jakarta, serta Sarjana Teknik Mesin dari Universitas Jayabaya. Ia melanjutkan studinya hingga meraih gelar Magister Manajemen Ekonomi dari Universitas Indonesia. Keahliannya di bidang ini, ditambah dengan pengalamannya dalam gerakan buruh, menjadikannya sosok yang penting bagi kebijakan ketenagakerjaan di Indonesia.





