Politik

Pelemahan Rupiah Hancurkan Daya Saing Industri Berbasis Impor!

Jakarta, Maret.id — Tifatul Sembiring, seorang tokoh penting dalam sektor industri, menyuarakan keprihatinan mengenai sejumlah tantangan strategis yang harus dihadapi Indonesia. Dalam pernyataannya yang disampaikan pada Selasa, 9 Juni 2026, ia menyoroti pentingnya serapan anggaran dan dampak depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dunia usaha.

Tantangan Serapan Anggaran

Tifatul mengungkapkan bahwa serapan anggaran negara masih berada pada angka 42,57 persen. Ia menegaskan, seharusnya di bulan Juni, serapan ini sudah mencapai 50 persen ke atas, karena anggaran negara berperan sebagai pendorong utama aktivitas ekonomi nasional.

“Anggaran negara ini menjadi salah satu penggerak aktivitas ekonomi nasional,” ujarnya.

Kontribusi Sektor Industri

Dalam konteks pertumbuhan ekonomi, Tifatul mencatat bahwa Indonesia mengalami pertumbuhan sebesar 5,61 persen dengan kontribusi signifikan dari sektor industri. Dia mencatat bahwa kontribusi sektor industri terhadap pertumbuhan tersebut mencapai 1,03 persen, yang menunjukkan pentingnya peran industri dalam perekonomian.

“Growth kita bagus, 5,61 persen. Dan kontribusi sektor industri terhadap pertumbuhan itu mencapai 1,03 persen. Ini angka yang sangat signifikan,” tambahnya.

Dampak Pelemahan Rupiah

Meski begitu, Tifatul juga memperingatkan adanya masalah serius yang ditimbulkan oleh tingginya impor, yang dapat memberikan tekanan pada nilai tukar rupiah. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), total impor Indonesia antara Januari dan April 2026 mencapai 86,51 miliar dolar AS. Sekitar 75 persen dari total impor ini diperuntukkan bagi sektor industri, dengan nilai mencapai Rp1.168 triliun.

“Ini sangat besar dan tentu memiliki dampak terhadap pergerakan devisa serta nilai tukar rupiah,” jelasnya.

Tifatul menyatakan bahwa pelemahan rupiah yang mengarah ke level Rp18.000 per dolar AS menambahkan tekanan bagi sektor industri yang bergantung pada bahan baku impor. Dalam pandangannya, industri-industri seperti petrokimia, plastik, farmasi, serta makanan dan minuman, mengalami dampak signifikan akibat situasi ini.

“Ketika rupiah melemah, biaya produksi mereka otomatis meningkat,” ujarnya.

Selain peningkatan biaya produksi, ia juga mengingatkan bahwa risiko ini dapat meluas, termasuk potensi keluarnya modal dari pasar domestik dan meningkatnya tekanan terhadap neraca perdagangan jika ekspor tidak tumbuh seimbang dengan impor.

“Kita melihat investor menjual saham dalam rupiah, kemudian mengonversinya ke dolar. Bahkan ada indikasi capital flight yang bukan hanya dilakukan investor asing, tetapi juga pemilik modal dalam negeri,” tegas Tifatul.

Melihat situasi ini, Tifatul menekankan pentingnya langkah-langkah strategis yang telah diusulkan dalam program pemerintah. Ia mendorong penguatan insentif fiskal dan nonfiskal, pengendalian impor, serta koordinasi lintas kementerian guna mendukung penggunaan bahan baku domestik dan mempercepat substitusi impor.

“Kalau tidak punya strategi yang tepat, kita bisa salah memulai. Memperkuat industri nasional adalah langkah yang harus dilakukan di tengah tantangan ekonomi global,” pungkas Tifatul.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button