Penggunaan Mata Uang Lokal Perkuat Kedaulatan Ekonomi Negara Berkembang!

Jakarta, Maret.id — Pengamat intelijen dan geopolitik, Amir Hamzah, mengungkapkan adanya jaringan kekuatan finansial global yang selama ini mendapatkan keuntungan signifikan dari dominasi mata uang dolar dalam perdagangan internasional. Dia menyoroti bahwa kekuatan ini sering terkait dengan institusi keuangan internasional, seperti The Fed, serta pusat-pusat keuangan global seperti City of London.
Inisiatif BRICS dan Penggunaan Mata Uang Lokal
Amir menegaskan bahwa langkah yang diambil oleh negara-negara anggota BRICS, yaitu untuk memperluas penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan internasional, berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS. “Apabila suatu saat Brasil melakukan pembelian barang dari Indonesia menggunakan rupiah, dan Indonesia membeli produk dari Brasil dengan mata uang Brasil, maka kebutuhan akan dolar dalam transaksi tersebut akan berkurang,” ujarnya.
Penggunaan mata uang lokal ini, lanjut Amir, merupakan bagian dari skema perdagangan yang sedang dirancang dalam kerja sama BRICS. Dalam konteks ini, dia menjelaskan bahwa model perdagangan menggunakan local currency settlement dapat memperkuat kedaulatan ekonomi negara-negara berkembang sekaligus mengurangi risiko yang timbul akibat fluktuasi nilai dolar AS.
Tekanan Terhadap Nilai Tukar Rupiah
Berdasarkan data resmi terbaru dari Bank Indonesia, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih menghadapi tekanan yang cukup signifikan. Pada tanggal 9 Juni 2026, kurs referensi JISDOR tercatat berada pada level Rp18.160 per dolar AS. Amir mengingatkan bahwa situasi ini dapat memberi dampak serius bagi perekonomian lokal apabila tidak ada upaya untuk mengurangi ketergantungan pada dolar.
Amir juga mencatat bahwa dengan penguatan kerjasama menggunakan mata uang lokal, negara-negara berkembang dapat menciptakan sebuah sistem perdagangan yang lebih berkelanjutan dan mandiri. “Dengan demikian, negara-negara anggota BRICS dapat saling mendukung dan mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan oleh ketidakstabilan pasar global,” pungkasnya.
Implikasi untuk Negara Berkembang
Selanjutnya, Amir mengingatkan bahwa perubahan ini bukan hanya mengenai mata uang, tetapi juga menyangkut pergeseran kekuatan dalam tatanan ekonomi global. “Langkah ini bisa menjadi momentum bagi negara-negara berkembang untuk lebih mandiri dan tidak tergantung pada satu mata uang saja,” kata Amir.
Peningkatan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi internasional ini mencerminkan perubahan paradigma dalam hubungan ekonomi global. Apabila inisiatif ini berhasil, bisa jadi akan muncul rivalitas baru dalam ketergantungan mata uang dan penguasaan pasar antara negara-negara maju dengan negara berkembang.





