Politik

Amran Tuding Pembuat Film Pesta Babi Ingin Hancurkan Stabilitas Negara!

Jakarta, Maret.id — Dalam sebuah dialog yang digelar mengenai film kontroversial “Pesta Babi”, Dr. Aswar, seorang dosen Universitas Negeri Makassar (UNM), menyampaikan pandangannya yang sempat terpengaruh oleh narasi film tersebut. Dalam video yang diunggah di kanal YouTube, Aswar mengungkapkan kekhawatirannya terhadap representasi warga Sulawesi Selatan dalam konteks kerusakan hutan di Papua.

Amran Sulaiman, Menteri Pertanian, yang juga hadir dalam dialog tersebut, menjawab pernyataan Aswar dengan skeptis dan meminta klarifikasi akan pendapatnya. “Apakah Bapak melakukan tabayyun ketika menonton film itu?” tanya Amran, mengisyaratkan pentingnya verifikasi informasi sebelum percaya pada narasi yang disajikan.

Bantahan Menteri Pertanian

Amran menekankan bahwa penting untuk tidak memberikan informasi yang salah kepada publik. Menurutnya, kritik yang ditujukan kepada warga Sulawesi Selatan dalam konteks pembukaan lahan di Papua harus diteliti secara lebih mendalam. Ia menunjukkan data bahwa pembukaan lahan tidak hanya terjadi di Papua tetapi juga meluas di pulau-pulau lain seperti Sumatera dan Kalimantan.

“Di Merauke mungkin baru seribu hektare, sedangkan di Sumatera-Kalimantan sudah mencapai 200 ribu hektare,” jelas Amran, yang menunjukkan bahwa masalah tersebut sifatnya lebih kompleks daripada yang digambarkan dalam film. Ia juga mempertanyakan mengapa kritik tersebut hanya terfokus pada Papua.

Diskusi yang Memanas

Aswar menjawab komentar Amran dengan ringkas, mengatakan bahwa mungkin alasan mengapa film tersebut memilih Merauke sebagai fokus adalah karena isu tersebut dianggap lebih seksi dan menarik perhatian publik. Amran kemudian mengikuti jawaban Aswar dengan refleksi atas dampak film yang dapat mengacaukan pandangan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah.

“Pilih mana? Pesta babi atau pesta panen?” tanya Amran tegas, menekankan bahwa pemerintah saat ini berfokus pada pengembangan untuk kesejahteraan rakyat.

Perspektif Berbeda dalam Kebijakan Publik

Aswar menegaskan bahwa pilihan mereka adalah pesta panen, merujuk pada potensi hasil pertanian yang lebih produktif. Amran menanggapi semangat Aswar, berusaha menciptakan dialog yang konstruktif dalam menghadapi kritik yang beredar di publik.

Namun, Amran juga menegaskan kepentingan untuk meluruskan informasi agar tidak menyesatkan masyarakat. “Jangan sebut lagi orang Sulsel dengan cara itu,” ujar Amran, menunjukkan keseriusannya dalam menjaga reputasi masyarakat dari provokasi yang tidak berdasar.

Dialog ini menegaskan pentingnya komunikasi yang konstruktif antara pemerintah dan akademisi dalam menyikapi isu-isu sensitif yang berpotensi menimbulkan salah paham di masyarakat. Sebuah pernyataan yang mengesankan dan berpotensi membangun kesadaran publik akan tanggung jawab masing-masing pihak dalam menyampaikan informasi.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button