Politik

Gerakan Mahasiswa Tolak Program Pemerintah, Soroti Ketidakadilan Sosial!

Jakarta, Maret.id — Pengamat politik Adi Prayitno menyatakan bahwa perbedaan pandangan di antara berbagai kelompok mahasiswa bukanlah hal baru, melainkan fenomena yang sudah berlangsung lama. Hal ini terlihat belakangan ini ketika sejumlah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) baik di daerah maupun di Jakarta memunculkan tuntutan politik yang menuntut penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Aliansi BEM Bersatu dan Dukungan Program MBG

Di tengah tuntutan tersebut, muncul Aliansi BEM Bersatu yang mengekspresikan sikap berbeda. Kelompok ini justru mendukung keberlanjutan program MBG dengan beberapa catatan kritis, sambil mengusulkan langkah-langkah untuk memperkuat tata kelola program pemerintah. Dalam konteks ini, mereka mendorong agar pelaksanaan program MBG lebih tepat sasaran dan efisien, dengan tata kelola yang semakin baik.

“Berkaitan dengan gerakan ini, salah satu tuntutannya adalah dilakukan sterilisasi gerakan mahasiswa agar terbebas dari pendanaan, fasilitas, dan intervensi kepentingan politik praktis,” ungkap Adi Prayitno dalam kanal YouTube-nya, pada Kamis, 18 Juni 2026. Seiring dengan hal itu, Aliansi BEM Bersatu juga menyerukan penuntasan kasus korupsi tanpa pandang bulu dan mengajak mahasiswa untuk mengawal proses hukum dengan objektif.

Fakta Perbedaan Sikap di Kalangan Mahasiswa

Menurut Adi Prayitno, perbedaan sikap politik di kalangan mahasiswa adalah hal yang tak terhindarkan dalam konteks demokrasi. “Sejarah mencatat, perbedaan sikap politik di kalangan mahasiswa sering terjadi. Ini bisa terlihat antara satu BEM dengan BEM lainnya atau antara kelompok mahasiswa tertentu dengan pandangan politik yang berbeda,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa publik tidak perlu terkejut dengan munculnya kelompok mahasiswa yang memiliki pandangan berbeda terhadap kebijakan pemerintah.

Adi menanggapi stigma negatif yang sering ditujukan kepada kelompok mahasiswa yang mendukung pemerintah. “Munculnya klaim bahwa kelompok mahasiswa yang pro-pemerintah adalah proksi atau upaya menggembosi gerakan kritis, juga telah menjadi narasi yang lazim. Setiap kali ada suara yang dianggap sejalan dengan pemerintah, selalu ada tuduhan semacam itu,” terangnya.

Pentingnya Dialog dan Kerukunan Antarkelompok Mahasiswa

Meskipun demikian, Adi Prayitno mengingatkan agar perbedaan pandangan tersebut tidak berujung pada konflik antara kelompok mahasiswa. Ia menekankan bahwa demokrasi seharusnya tumbuh dari keberagaman pendapat yang diungkapkan secara terbuka dan bertanggung jawab. “Penting untuk diingat bahwa apa pun pendapat, aktivisme, atau aspirasi yang disampaikan—apakah melalui demonstrasi atau pernyataan sikap—tidak boleh menimbulkan konflik. Biarkan demokrasi berjalan indah, karena perbedaan adalah realitas yang harus kita akui,” pungkasnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button