Pemerintah Desak Evaluasi Segera Lapangan Golf Otto Hasibuan setelah Ramai Hotel Sultan!

Jakarta, Maret.id — Pemerintah Indonesia mengambil langkah strategis dengan mengeksekusi lahan dan bangunan Hotel Sultan yang terletak di kawasan Blok 15 Gelora Bung Karno (GBK). Langkah ini diharapkan dapat mendukung kemakmuran dan kesejahteraan rakyat, serta memberi pemanfaatan yang lebih baik terhadap aset negara.
Pernyataan Direktur Rumah Politik
Desakan untuk penataan kembali fungsi aset negara diungkapkan oleh Direktur Rumah Politik Fernando Emas. Ia menyampaikan pandangannya setelah pemerintah melaksanakan eksekusi lahan Hotel Sultan pada Kamis, 18 Juni 2026. Lahan yang dimaksud merupakan aset negara yang dibebaskan pemerintah periode 1959-1962 guna mendukung penyelenggaraan Asian Games IV di Jakarta.
Fernando mengusulkan bahwa kawasan lapangan golf Senayan, yang dikenal dengan sebutan Ottolima Senayan Golf Club, dapat diubah menjadi hutan kota atau kawasan hijau. Ia juga mengusulkan agar lahan milik Senayan Avenue by Ottolima Senayan Golf Club dapat dipergunakan sebagai pusat perkantoran atau hunian bagi para pekerja.
Pentingnya Penataan Aset Negara
Fernando menekankan perlunya pemerintah menata kembali fungsi aset-aset negara untuk kepentingan jangka panjang. Ia berpendapat, jika Senayan ditetapkan sebagai pusat olahraga, sebaiknya ditambah area hijau serta mempertimbangkan lokasi lain seperti Kemayoran untuk pengembangan kawasan hunian.
Fernando juga menekankan pentingnya konsistensi pemerintah dalam menarik kembali pengelolaan aset yang selama ini berada di tangan swasta. Ia menegaskan pentingnya agar upaya ini tidak terkesan diskriminatif dengan hanya menarik kembali Hotel Sultan.
Informasi Mengenai Pemilik Lapangan Golf
Sementara itu, Otto, yang merupakan mantan pengacara Jessica Wongso, memiliki usaha lapangan golf yang dikenal dengan nama Senayan Avenue by Ottolima Senayan Golf Club. Nama Ottolima diambil dari angka lima, yang menurut Otto memiliki makna personal dalam hidupnya. “Saya ini lahir tanggal 5, bulan 5, tahun 1955 jam 5 pagi. Jadi, semuanya nomor lima, jadi dibuat namanya Ottolima,” jelasnya.
Dengan pernyataan ini, jelas terlihat bahwa otoritas pemerintah dan para pengusaha swasta perlu bekerja sama demi memaksimalkan potensi aset-aset negara. Ini menjadi penting mengingat masa depan pembangunan infrastruktur dan keberlanjutan lingkungan di kawasan Jakarta yang terus berkembang.





