Mandatori B50 Dorong Swasembada Energi dan Jadikan Indonesia Pionir Dunia!

Jakarta, Maret.id — Ekonom Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Hendry Cahyono, menilai bahwa program pencampuran 50 persen bahan bakar nabati berbasis sawit, yang dikenal dengan istilah B50, memiliki potensi besar dalam memberikan manfaat terhadap devisa negara dan pengurangan emisi gas rumah kaca.
Hendry mengungkapkan bahwa implementasi program tersebut dapat mengurangi angka impor dan memiliki dampak positif pada apresiasi nilai tukar rupiah. “Kalau yang disampaikan demikian, memang itu akan menurunkan angka impor. Salah satu dampaknya nanti juga bisa terhadap apresiasi nilai tukar rupiah,” ujarnya dalam keterangannya.
Penghematan Devisa yang Signifikan
Menurut Hendry, pelaksanaan B50 bisa memungkinkan Indonesia menghentikan impor solar yang selama ini membebani anggaran negara. Ia memperkirakan, dengan penerapan program ini, Indonesia dapat menghemat devisa hingga Rp157 triliun. “Asalkan pemerintah telah menghitung secara cermat kebutuhan bahan baku, kapasitas industri biodiesel, serta skema pembiayaannya,” jelasnya.
Lebih jauh, Hendry mengatakan bahwa jika B50 diterapkan secara luas, termasuk di sektor industri, ini berpotensi menjadi proyek percontohan yang dapat meningkatkan ketahanan energi nasional. “Kalau nanti B50 digunakan dan sektor industri juga menggunakan B50, itu bisa menjadi salah satu pilot project bagi ketahanan energi,” tuturnya.
Dampak terhadap Industri Biodiesel
Menurut analisis Hendry, penerapan B50 tidak hanya akan menguntungkan sektor energi tetapi juga dapat mendorong pertumbuhan industri biodiesel di tanah air. Peningkatan permintaan akan bahan bakar nabati berpotensi membuka investasi baru, meningkatkan utilisasi pabrik biodiesel, serta menciptakan efek berganda pada sektor perkebunan dan industri pengolahan sawit.
“Indonesia juga berpeluang menjadi pionir dalam penerapan biodiesel dengan campuran tinggi. Sejumlah negara lain masih menerapkan kadar biodiesel yang lebih rendah, seperti Malaysia yang berada di kisaran B10 hingga B20, Thailand sekitar B20, serta beberapa negara Eropa yang menggunakan campuran sekitar 7 sampai 10 persen,” kata Hendry, menggarisbawahi posisi Indonesia dalam industri biodiesel global.
Peluang Investasi dalam Energi Terbarukan
Keberhasilan program B50 juga diharapkan akan menciptakan iklim yang kondusif untuk investasi di sektor energi terbarukan. Dengan meningkatnya kebutuhan terhadap bahan bakar nabati, banyak perusahaan di sektor perkebunan dan pengolahan sawit dapat beradaptasi untuk memenuhi permintaan pasar.
Hendry menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta dalam mewujudkan rencana ini. “Dukungan dari semua pemangku kepentingan akan sangat menentukan keberhasilan penerapan B50 di Indonesia,” pungkasnya.





