Politik

MUI Ingatkan Pengelolaan Sampah Jangan Hanya Untungkan Investor

Jakarta, Maret.id — Sarasehan Ulama yang diadakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta bersama Indonesia Sustainability Movement (Inamove) membahas topik “Ekoteologi & Keberlanjutan Indonesia” di Kampus Universitas Muhammadiyah Jakarta pada Kamis, 25 Juni 2026.

Dr. Muladi Mughni, sebagai Direktur Badan Pelaksana PKU MUI DKI Jakarta dan penulis Fikih Kota Global, menegaskan pentingnya pengelolaan sampah dalam perspektif Islam. “Sampah (Al-Afsah) adalah materi yang dibuang, tetapi masih memiliki potensi nilai guna jika dikelola dengan benar,” tutur Muladi.

Ia menjelaskan konsep Fiqih Ma’alat, yang menilai kebijakan berdasarkan dampak jangka panjang terhadap masyarakat. “Kebijakan yang baik bukan yang paling banyak mengelola sampah, melainkan yang paling berhasil mengurangi lahirnya sampah sejak dari hulu,” tegasnya.

Muladi menekankan bahwa paradigma pengelolaan sampah harus bergeser dari sekadar pengolahan ke pencegahan timbulnya sampah dari sumbernya. Ia juga mengingatkan tentang amanah publik dalam penggunaan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk proyek pengelolaan sampah. “Dana ini tidak boleh hanya menguntungkan investor swasta, sementara risiko kerugian dibebankan pada masyarakat,” imbuhnya.

Fadli Rahman, CEO PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera), menyampaikan bahwa Indonesia menghadapi tantangan dengan produksi sekitar 50 juta ton sampah per tahun, di mana sekitar 60 persen di antaranya belum dikelola dengan optimal. “Pemerintah mendorong pengembangan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) melalui Peraturan Presiden Nomor 109 sebagai upaya meningkatkan kualitas lingkungan dan mengurangi emisi,” kata Fadli.

Menurutnya, teknologi PSEL dapat menekan emisi hingga 80 persen jika dibandingkan dengan sistem pembuangan terbuka. Program ini direncanakan akan dibangun di 31 lokasi dengan tahap awal di Bali, Bekasi, dan Solo. Selain itu, proyek juga dirancang untuk melibatkan tenaga kerja dari sektor informal seperti para pemulung.

Dr. Ir. Kiman Siregar, Peneliti Lingkungan Senior Institut Pertanian Bogor, menekankan pentingnya pendekatan Life Cycle Assessment (LCA) dalam kebijakan pengelolaan sampah. “Narasi tentang pengolahan sampah perlu diubah dari sekadar ‘membakar sampah’ menjadi ‘mereduksi karbon’ agar memiliki nilai ekonomi hijau yang lebih jelas,” ujar Kiman.

Ia juga mengkritik kebijakan harga biomassa yang masih mengacu pada nilai kalor batu bara. Menurutnya, kemampuan biomassa dalam mengurangi emisi karbon seharusnya menjadi faktor utama dalam penentuan nilai ekonominya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button