Eri Cahyadi Menegaskan Bahwa Balai Pemuda Adalah Milik Seluruh Seniman di Surabaya

Surabaya, Maret.id — Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menekankan pentingnya Balai Pemuda sebagai ruang publik yang dimiliki seluruh seniman di Kota Surabaya, tanpa monopoli dari kelompok tertentu. Penegasan ini disampaikan oleh Eri setelah terbentuknya Dewan Kebudayaan Surabaya yang baru, sesuai dengan regulasi dari pemerintah pusat pada Senin, 11 Mei 2026.
Balai Pemuda telah lama menjadi simbol kegiatan seni dan budaya di Surabaya. Eri menyatakan, “Balai Pemuda itu adalah milik seniman Surabaya, bukan milik tertentu.” Pernyataan ini didorong oleh keinginan untuk memastikan bahwa semua pelaku seni memiliki akses yang sama terhadap fasilitas yang ada. Dalam sejarahnya, kepengurusan Dewan Kesenian Surabaya sebelumnya telah terbentuk sebelum tahun 2020. Namun, mengingat tidak adanya mekanisme resmi yang mengatur pembentukan kelembagaan, surat keputusan (SK) tidak pernah diterbitkan.
Proses pemilihan kembali untuk Dewan Kebudayaan dilakukan setelah adanya regulasi terbaru dari pemerintah, yang bertujuan untuk meningkatkan pengelolaan kegiatan seni di Balai Pemuda menjadi lebih terbuka dan inklusif. Eri menjelaskan, “Hari ini ada pemilihan kembali yang sesuai dengan peraturan menteri yang baru. Itulah pentingnya Dewan Kebudayaan yang baru, dan alhamdulillah sudah terpilih.”
Komitmen Terhadap Aksesibilitas Seni
Pemkot Surabaya berkomitmen untuk memastikan akses yang lebih mudah bagi seniman dalam memanfaatkan Balai Pemuda. Meskipun Balai Pemuda dikenal sebagai tempat penting untuk pertunjukan dan pameran seni, beberapa komunitas masih mengalami kesulitan dalam menggunakan fasilitas tersebut. Biaya penggunaan yang tinggi sering kali menjadi hambatan bagi komunitas seni untuk melaksanakan kegiatan secara rutin.
Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah kota merencanakan kebijakan baru yang bakal memudahkan seniman lokal dalam menggunakan fasilitas, termasuk gedung teater di Balai Pemuda. “Untuk seniman Surabaya, mereka nanti hanya perlu membayar biaya kebersihan. Yang lainnya saya berikan gratis,” ujar Eri, mengindikasikan langkah progresif dalam mendukung kegiatan seni.
Peran Dewan Kebudayaan
Dengan terbentuknya Dewan Kebudayaan yang baru, Eri berharap lembaga ini tidak sekadar menjadi formalitas. Dewan Kebudayaan diharapkan berfungsi sebagai motor penggerak bagi ekosistem seni dan budaya di Surabaya. Potensi lembaga ini sangat besar, mulai dari membuka ruang pertunjukan, mempertemukan komunitas, sampai membantu seniman dalam mengembangkan karya-karya kreatif mereka.
“Karena itu untuk warga Surabaya dan seniman Surabaya,” tegas Eri. Evaluasi menyeluruh terhadap aktivitas seni dan budaya di Surabaya diharapkan dapat menciptakan ruang ekonomi baru bagi pelaku seni lokal, memperkaya kehidupan budaya di kota ini.
Dengan langkah-langkah ini, Pemkot Surabaya berambisi untuk menghidupkan kembali aktivitas seni dan budaya yang selama ini terhambat, dan memberikan harapan baru bagi para seniman. Eri Cahyadi, dalam pandangannya, percaya bahwa seni adalah bagian integral dari identitas sebuah kota. Oleh karena itu, menciptakan ruang yang inklusif bagi semua seniman adalah langkah penting untuk memajukan kota dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Kehadiran Dewan Kebudayaan Surabaya sangat diharapkan dapat mengubah paradigma dalam pengelolaan seni di kota ini, sehingga setiap seniman memiliki kesempatan yang sama untuk berkarya dan berkonstribusi bagi perkembangan budaya di Surabaya.





