Peternak Ayam Petelur Tertekan, Sonny Dorong Kementan Ambil Tindakan

Jakarta, Maret.id — Anggota Komisi IV DPR RI, Sonny T. Danaparamita, mendesak Kementerian Pertanian (Kementan) untuk mempercepat bantuan bagi peternak ayam petelur. Hal ini disebabkan penurunan harga telur dan kenaikan biaya pakan yang membebani para peternak.
“Situasi ini sangat berat bagi peternak mandiri kita. Pemerintah harus memberikan atensi lebih dan hadir dengan solusi riil sebelum situasi ini memaksa ribuan peternak kita gulung tikar,” tegas Sonny di Jakarta, pada Jumat (26/6/2026).
Dia menambahkan, banyak peternak mengalami kerugian akibat kondisi ini. Jika tidak segera diatasi, ribuan peternak mandiri berpotensi menghentikan usahanya.
Sonny mengaku telah mengkoordinasikan masalah ini dengan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan, Agung Suganda. Koordinasi ini bertujuan meminta pemerintah lebih peka terhadap persoalan yang dihadapi peternak.
“Upaya sudah dilakukan, tapi harga telur masih belum sesuai harapan. Kita tidak boleh pasrah,” sambung Sonny, anggota Fraksi PDI Perjuangan.
Agung Suganda menjelaskan, Kementan sudah mengimplementasikan beberapa langkah strategis setelah Menteri Pertanian bertemu dengan asosiasi dan koperasi peternak. Salah satu langkah tersebut adalah meningkatkan penyerapan telur melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kementan juga telah meminta Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) untuk meningkatkan penyerapan telur dalam program tersebut sesuai Harga Acuan Penjualan (HAP). Selain itu, Kementan mengusulkan agar investasi asing di sektor ayam petelur di Pulau Jawa dimasukkan dalam daftar negatif investasi.
Pemerintah memperketat pengawasan melalui Satgas Pangan untuk memastikan pembelian telur oleh broker merujuk pada HAP. Peternak besar juga diimbau melakukan afkir ayam petelur berusia di atas 90 minggu untuk menjaga keseimbangan pasokan telur.
Dengan penyaluran Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung, pemerintah berharap dapat menahan kenaikan harga pakan. Meski langkah-langkah tersebut sudah diambil, Sonny berpendapat dampaknya belum sepenuhnya dirasakan oleh peternak.
Agung Suganda mengakui kondisi pasar saat ini masih di bawah ekspektasi. Kementan berencana mengambil langkah lanjutan yang terarah untuk memperbaiki harga telur dan menjaga keberlangsungan usaha peternak.
Langkah pertama adalah menyurati dinas terkait di tingkat kabupaten dan kota untuk menetapkan harga acuan lokal. Pemerintah daerah akan mengawasi afkir ayam petelur dan memfasilitasi distribusi telur ke daerah yang kurang pasokan.
Langkah kedua melibatkan peringatan kepada perusahaan pembibit untuk tidak menjual telur fertil (FEB) ke pasar konsumsi, dengan ancaman sanksi bagi pelanggar. Sementara langkah ketiga fokus pada efisiensi pakan.
“Pemerintah meminta perusahaan feedmill melakukan efisiensi internal untuk menahan kenaikan harga pakan,” imbuh Agung.
Sonny berharap semua langkah yang dijalankan Kementan dapat segera memberikan hasil nyata bagi para peternak ayam petelur yang tertekan. “Saya harap para peternak melaporkan jika ada oknum yang memanfaatkan situasi sulit ini,” pungkasnya.





