Cak Imin Bangga Santri Ponpes BIMA Berprestasi di Rusia dan China

Jakarta, Maret.id — Dalam sebuah acara di Pesantren BIMA, Muhaimin Iskandar atau akrab disapa Cak Imin, menyampaikan apresiasi terhadap konsep pendidikan yang diterapkan di pesantren tersebut. Ia menilai pendidikan di BIMA sangat relevan dengan tantangan zaman.
Cak Imin mengenal Pengasuh Ponpes BIMA, KH Imam Jazuli, melalui media sosial. “Saya kenal beliau bukan langsung bertemu, tetapi lewat Instagram,” tutur Cak Imin.
Ia menjelaskan ketertarikan awalnya terhadap pesantren ini berasal dari penglihatan tentang kualitas fisik dan atmosfer pendidikan yang diciptakan. “Beliau mengatakan memang pesantren ini luar biasa,” imbuh Cak Imin.
Keberhasilan lulusan BIMA, menurut Cak Imin, membuktikan visi pendidikan yang kuat dari KH Imam Jazuli. “Ini menunjukkan bahwa Kiai Imam Jazuli sejak awal memiliki konsep, arah, dan tujuan yang jelas,” tegasnya.
Kehadiran Muhaimin di acara tersebut didampingi oleh Bendahara Umum DPP PKB Bambang Susanto dan Ketua DPW PKB Jawa Barat Syaiful Huda. Ia juga mengaku pernah berdiskusi dengan KH Imam Jazuli tentang penyusunan kurikulum yang efektif.
“Saya pernah bertanya kepada beliau, apakah pengalaman belajar puluhan tahun di Lirboyo bisa dipadatkan menjadi beberapa tahun,” sambungnya.
Cak Imin mengungkapkan keyakinannya bahwa kurikulum tersebut dirancang untuk menghadapi kebutuhan zaman saat ini. Sebagai Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, ia optimistis bahwa lulusan BIMA akan memperkuat pencapaian visi Indonesia Emas 2045.
“Santri masa depan harus memiliki tiga bekal utama, yakni kompetensi, integritas, dan kepatuhan terhadap ilmu pengetahuan,” sambungnya.
Dia juga mengingatkan para wisudawan bahwa Indonesia saat ini menikmati bonus demografi. “Kalau sekarang kalian lulus, berarti tahun 2030 kalian sudah mulai memegang kendali,” tegasnya.
Cak Imin memastikan bahwa lulusan BIMA tidak boleh gagal dalam menggunakan kesempatan ini. Sementara itu, KH Imam Jazuli menyatakan rasa syukurnya atas peningkatan capaian santri.
“Kami menargetkan 1.000 sarjana di kampus internasional dan 1.000 sarjana di perguruan tinggi negeri dalam negeri,” ungkap KH Imam Jazuli.
Beliau menyebutkan bahwa target tersebut akan tercapai lebih cepat dari ekspektasi, kemungkinan pada tahun 2027. Pada tahun ini, sebanyak 175 santri akan melanjutkan pendidikan di negara-negara seperti Rusia, Tiongkok, dan Tunisia.
Ia menjelaskan bahwa banyak santri memilih program studi yang tidak hanya berkaitan dengan agama. “Dari 13 santri yang berangkat ke Tunisia, hanya dua orang yang mengambil bidang agama,” jelasnya.
Pilihan program studi, lanjutnya, didasarkan pada kebutuhan strategis bangsa. “Pesantren saat ini tidak cukup hanya mencetak santri yang saleh, tetapi juga harus melahirkan generasi yang mampu memberikan manfaat nyata bagi bangsa,” imbuh KH Imam Jazuli.
Beliau menegaskan komitmennya untuk memajukan pesantren-pesantren lainnya di Indonesia dengan visi yang serupa. “Bukan sekadar mencetak santri yang saleh, tetapi juga mencetak santri yang bermanfaat dan menguasai berbagai bidang ilmu yang dibutuhkan negara,” tutupnya.





