Politik

Rupiah Dekati Rp18.000 per Dolar AS, Pasar Mulai Goyah

Jakarta, Maret.id — Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kenaikan sebesar 49 poin atau 0,87 persen, menempatkannya pada posisi 5.744,55.

Pada perdagangan hari ini, indeks terus bergerak di zona hijau, mencapai puncaknya di 5.806 dan terendah di level 5.704. Volume transaksi tercatat mencapai 20 miliar saham, dengan nilai mencapai Rp10,9 triliun, dan frekuensi transaksi mencapai 1,5 juta kali.

Sebanyak 395 saham menguat, sementara 219 saham melemah, dan 169 saham lainnya stagnan. Di sisi lain, pasar valuta asing menunjukkan perkembangan yang kurang menggembirakan, di mana Rupiah terus melanjutkan tren pelemahan.

Menurut data Bloomberg, mata uang Garuda mengalami penurunan 43 poin atau 0,24 persen, mencapai level Rp17.995 per Dolar AS. Pelemahan ini mendekatkan Rupiah pada level psikologis Rp18.000 per Dolar AS.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa tekanan pada Rupiah disebabkan oleh menurunnya kepercayaan pelaku pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia di tengah berbagai sentimen negatif. “Mulai dari kasus korupsi tingkat tinggi, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal pemerintah setelah neraca perdagangan Indonesia bulan Mei defisit, inflasi melonjak hingga penundaan pengumuman tentang pasar modal Indonesia oleh penyedia indeks global MSCI,” ujar Ibrahim.

Ia juga menyoroti data Purchasing Managers’ Index (PMI) yang dirilis S&P Global, yang menunjukkan bahwa PMI manufaktur Indonesia berada di level 46,9 pada Juni 2026. Ini mencatatkan penurunan terdalam dalam setahun. Penurunan tersebut menandakan hilangnya pesanan baru yang mendorong output manufaktur terkecil sejak April 2025.

Ibrahim menambahkan bahwa laporan lembaga pemeringkat Fitch Ratings turut memberikan sentimen negatif. Lembaga tersebut memperkirakan cadangan devisa Indonesia pada 2026 hanya mampu membiayai sekitar 4,9 bulan kebutuhan pembayaran eksternal, seperti impor dan utang pemerintah. “Menurut Fitch, penyusutan cadangan devisa terutama dipicu oleh memburuknya terms of trade akibat kenaikan harga energi global, intervensi BI di pasar valuta asing untuk menopang Rupiah, serta pembayaran utang luar negeri,” tegas Ibrahim.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button