Politik

Sekolah Rakyat dan Impian Bocah Penjual Ikan di Jakarta

Jakarta, Maret.id — Dalam kondisi sulit, Risky, seorang anak yang terpaksa menjadi tulang punggung keluarga, menjalani hidupnya dengan penuh tantangan setelah ibunya merantau dan ayahnya membangun kehidupan baru. Ia tinggal bersama kakek dan neneknya, Salamuddin (63) dan Masitah (55).

“Dari berjualan, sehari saya bisa dapat Rp30 ribu, paling banyak Rp90 ribu kalau ikan saya habis,” tutur Risky. Penghasilan tersebut hanya mampu mendukung 13 anggota keluarga yang bergantung pada perjuangannya.

“Hasil jualan dibagi dengan nenek. Setelah itu, nenek beli beras dan pampers untuk adik,” ujar Risky dengan nada polos. Namun, harapan Risky untuk melanjutkan pendidikan muncul kembali saat ia diterima di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 2 Medan.

Kehadiran Sekolah Rakyat, yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto, dianggap sebagai anugrah bagi Masitah. “Dulu saya menangis karena tak dapat menyekolahkan dia. Sekarang saya menangis bahagia,” imbuh Masitah.

Masitah juga mengamati perubahan besar pada Risky sejak masuk asrama. “Perubahannya jauh sekali. Sekarang dia lebih sering ke musala atau masjid,” ungkapnya dengan bangga. Kakeknya, Salamuddin, memberikan dukungan penuh. “Kami semangatkan dia untuk sekolah di sini supaya dia terdidik dan menjadi orang sukses nanti,” tegas Salamuddin.

Di balik semangatnya, Risky menyimpan kerinduan mendalam kepada ibunya, yang terakhir kali ia temui saat kelas 4 SD. “Kangen mamak, mau jumpa kaya dulu,” kata Risky dengan mata berkaca-kaca.

Lingkungan Sekolah Rakyat, dengan fasilitas lengkap, membantunya membentuk mental yang kokoh. “Dulu saya enggak pandai baca, sekarang sudah bisa semua,” tuturnya dengan semangat. Risky bertekad untuk mengejar cita-citanya menjadi prajurit TNI.

“Saya ingin mamak bekerja dengan baik dan tidak perlu memikirkan kami di sini,” pungkas Risky.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button