Arah Organisasi NU Dipertanyakan Menjelang Muktamar 2023

Jakarta, Maret.id — Pertanyaan mengenai masa depan Nahdlatul Ulama (NU) dinilai tidak mudah dijawab. Hal ini berkaitan erat dengan kondisi organisasi saat ini dan sejarah perjalanan NU di masa lalu.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Dr. Zainul Maarif, akademisi NU yang akrab disapa Kiai Zain, dalam Halaqah Pra Muktamar bertajuk “Quo Vadis NU? Apakah NU Masih Milik Umat?” di Pondok Pesantren Ciganjur, Jakarta Selatan pada Sabtu malam, 4 Juli 2026. “Mau kemana NU? Kenapa pertanyaan ini sulit untuk dijawab? Karena Muktamar ini mau di mana itu saja susah, apalagi NU mau dibawa kemana ini? Pusing lagi ini kan,” tuturnya.
Zain menambahkan bahwa pembahasan mengenai arah NU perlu dibedakan berdasarkan aspek jam’iyah, jamaah, serta pengurus. Setiap aspek memiliki persoalan yang berbeda. “Tapi paling tidak, gini, jadi ada jam’iyah ada jamaah di jam’iyah sendiri, itu juga ada Pengurus NU ada juga organisasi NU sendiri, jadi sebenarnya ini ada banyak hal kita ngomong ini lapisannya banyak sekali,” imbuhnya.
Dalam diskusi tersebut, Zain menggarisbawahi pentingnya setiap Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memiliki warisan kepemimpinan atau legacy masing-masing. “Yang saya perhatikan ketum PBNU itu meninggalkan legacy,” tegasnya.
Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah narasumber penting, termasuk Ketua PBNU Savic Ali, Wasekjen PP ISNU Amin Mudzakir, dan Pengurus LD PBNU Achmad Ikrom. Diskusi ini menunjukkan komitmen NU dalam menavigasi tantangan yang dihadapi organisasi menjelang Muktamar mendatang.





