Sentimen Positif di Ruang Digital Tunjukkan Soliditas Koalisi Prabowo

Jakarta, Maret.id — Riset yang dilakukan oleh SSI mengungkapkan bahwa selama periode 5 Juni hingga 2 Juli 2026, kata kunci “Prabowo” menghasilkan sekitar 231 juta terpaan konten. Dari angka tersebut, hanya sekitar 33 juta atau kurang dari 20 persen yang secara khusus mengaitkan Presiden Prabowo Subianto dengan menteri dan wakil presiden dalam kabinetnya.
Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, tercatat memperoleh 8.213.780 terpaan konten, menjadikannya peringkat kedua setelah Gibran Rakabuming Raka yang mencatat 8.617.236 terpaan. Namun, dalam hal sentimen publik, Bahlil terpantau lebih positif dengan 40,1 persen percakapan mengenai dirinya memiliki nada positif, sementara 5,9 persen bernada negatif.
Sebaliknya, sentimen negatif mengenai Gibran mencapai 25,9 persen dengan sentimen positif di angka 31,4 persen. SSI mengelompokkan lima tokoh dengan sorotan tertinggi dalam kategori “Tier 1 Dominan”, merujuk pada figur yang memperoleh lebih dari satu juta paparan konten terkait Presiden Prabowo. Kelima tokoh tersebut adalah Gibran, Bahlil, Nanik/Deyang, Teddy Indra Wijaya, dan Purbaya Yudhi Sadewa.
Diluar Gibran dan Bahlil, Letkol Teddy mencatat 3.606.181 terpaan dengan sentimen positif sebesar 24,1 persen dan negatif 15,2 persen. Sementara Purbaya memperoleh 1.648.351 terpaan dengan sentimen positif 12,2 persen dan negatif 9,5 persen. Nanik/Deyang, yang meraih 7.451.724 terpaan, didominasi oleh sentimen netral hingga 85,7 persen.
Dari kelima tokoh ini, Bahlil menjadi satu-satunya figur yang menggabungkan sorotan tinggi dengan proporsi sentimen negatif terendah. Secara keseluruhan, SSI mencatat sentimen publik terhadap Prabowo Subianto selama periode ini terdiri dari 41,5 persen positif, 44,7 persen netral, dan 13,8 persen negatif.
Menanggapi temuan ini, Bustamin Wahid menilai pola percakapan di ruang digital perlu dipahami dalam konteks dinamika koalisi pemerintahan yang sedang berlangsung. “Data ini menunjukkan bahwa figur seperti Bahlil Lahadalia relatif jarang menjadi sasaran sentimen negatif dibandingkan tokoh lain yang sama-sama dibicarakan publik,” tegas Bustamin, Minggu, 5 Juli 2026.
Bustamin menekankan pentingnya pemantauan berkelanjutan terhadap temuan semacam ini sebagai bagian dari kajian komunikasi politik menjelang tahapan politik selanjutnya. Ia juga menggarisbawahi pentingnya konsistensi sentimen positif di ruang digital dengan kinerja nyata di lapangan.
“Data digital dapat menjadi indikator awal, tetapi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan seorang pembantu presiden. Sentimen positif perlu dijaga melalui kinerja nyata, bukan hanya aktivitas di media sosial,” imbuh Bustamin. Ia juga mendorong lembaga riset seperti SSI untuk transparan mengenai metodologi yang digunakan agar publik dapat menilai temuan ini secara utuh.





