Politik yang Berakar pada Tradisi Belajar DPD PDI Perjuangan Jatim

Jakarta, Maret.id — Di tengah dinamika politik yang semakin cepat, ukuran keberhasilan seorang politisi sering kali disederhanakan pada seberapa besar elektabilitas dan seberapa sering muncul di media. Namun, pandangan ini diungkapkan oleh politisi senior PDI Perjuangan dari Jawa Timur, Sri Untari Bisowarno, bahwa politik yang berkelanjutan tidak hanya bergantung pada popularitas.
“Politik yang bertahan lama dibangun oleh tradisi berpikir, kedisiplinan belajar, dan keteguhan memegang prinsip,” tegas Sri Untari. Pidato ini disampaikan saat merayakan hari ulang tahun Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, bulan Juli lalu.
Sri Untari mengungkapkan bahwa perjalanan Hasto bukan sekadar karier politik menuju posisinya saat ini. Proses panjang dan proses pembelajaran yang ditempuh Hasto, menurutnya, jauh lebih signifikan.
“Mas Hasto adalah sosok yang sejak muda memilih jalan politik. Pilihan itu tidak dijalani secara instan, tetapi dibangun melalui proses belajar yang panjang dan konsisten,” tuturnya. Pandangan ini mencerminkan kebutuhan pemimpin dalam politik modern yang mampu memahami tantangan zaman serta akar permasalahan masyarakat.
Sebuah kepemimpinan yang efektif, sambung Untari, memerlukan keberanian untuk menyampaikan gagasan serta kebijaksanaan dalam perspektif. Kebiasaan Hasto untuk mendalami berbagai disiplin ilmu dan meraih gelar doktor dianggapnya sebagai bagian penting dalam membangun kualitas kepemimpinan.
Kapasitas intelektual, menurut Untari, harus selaras dengan konsistensi menjalankan tugas yang diamanatkan organisasi. Dia memberikan contoh betapa Hasto tetap melaksanakan perintah Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, untuk mendaki gunung meski dalam keadaan cedera.
“Bagi Mas Hasto, amanat adalah tanggung jawab yang harus ditunaikan,” imbuh Untari.
Lebih jauh, Untari menegaskan bahwa politik harus dilihat sebagai ruang pengabdian yang mengedepankan karakter, bukan sekadar strategi kemenangan.
“Politik akan kehilangan makna apabila hanya dipahami sebagai perebutan kekuasaan. Sebaliknya, politik akan memberi manfaat ketika dijalankan dengan gagasan, integritas, dan keberanian mempertahankan nilai yang diyakini,” tukasnya.
Dia merujuk pemikiran Bung Karno dan kepemimpinan Megawati sebagai sumber nilai yang membentuk cara pandang tersebut. Nilai-nilai ini, menurutnya, diterapkan dalam kegiatan politik sehari-hari.
Di tengah politik nasional yang terus berkembang, Untari menganggap bahwa kebutuhan akan pemimpin yang berpikir, belajar, dan berpegang pada prinsip meningkat. “Mas Hasto menunjukkan bahwa politik bukan hanya soal memenangkan kontestasi, tetapi juga tentang menjaga gagasan dan membangun karakter,” sambungnya.
Pada akhirnya, pendekatan politik yang benar bukan hanya diukur dari tinggi rendahnya posisi seseorang di arena kekuasaan, tetapi juga dari seberapa kuat ia mengembangkan ide, memelihara integritas, dan menyiapkan estafet kepemimpinan generasi mendatang.





