Ketum JMSI: Jurnalisme Harus Utamakan Nilai Kemanusiaan

Jakarta, Maret.id — Ketika menjadi pembicara pada acara bedah buku “Jurnalisme untuk Kemanusiaan,” Dr. Teguh Santosa, Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), menekankan pentingnya jurnalisme yang menghormati nilai-nilai kemanusiaan. Acara ini berlangsung di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, pada Jumat, 10 Juli 2026.
Diskusi tersebut turut menghadirkan Pemimpin Redaksi CNN Indonesia, Titin Rosmasari, dan Direktur tvMu, Dr. Makroen Sanjaya, sebagai pembedah. Ketua Lazismu, Ahmad Mujadid Rais, juga memberikan kontribusi, sementara Ketua PP Muhammadiyah, Dadang Rahmad, memimpin pembukaan acara.
Teguh menghargai peluncuran buku Dr. Roni Tabroni yang menunjukkan pergeseran praktik jurnalisme dari nilai-nilai kemanusiaan. “Buku ini lahir dari kegelisahan terhadap praktik jurnalisme yang dinilai mulai menjauh dari nilai-nilai kemanusiaan,” kata Teguh.
Ia bahkan mengusulkan penambahan kata “memang” pada judul buku agar lebih tepat mencerminkan isi.
Teguh menjelaskan bahwa jurnalisme seharusnya berjalan dari “hulu ke hilir.” Media perlu terlibat dalam pencegahan sebelum masalah muncul. “Tidak cukup kita hanya bergerak untuk membantu korban kerusakan lingkungan… Misalnya dengan mengawal kebijakan tata kelola lingkungan sehingga tidak merusak alam,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa jurnalisme tidak hanya berfungsi sebagai “pemadam kebakaran,” tetapi juga harus mampu mengatasi akar masalah yang menyebabkan krisis kemanusiaan. Teguh juga mengkritik jurnalisme di era digital yang terjebak dalam logika algoritma, berpotensi menjauhkan perhatian dari isu-isu kemanusiaan penting.
Di sisi lain, Dr. Roni Tabroni menyatakan bahwa buku “Jurnalisme untuk Kemanusiaan” merupakan kelanjutan dari karyanya yang sebelumnya berfokus pada aspek teoretis. “Buku ini lahir dari dua realitas yang berjalan berdampingan, yakni tantangan jurnalisme di era disrupsi digital dan tingginya semangat filantropi masyarakat Indonesia,” ujar Roni.
Ia menjelaskan buku tersebut menawarkan paradigma jurnalisme yang berfungsi sebagai katalisator perubahan. Roni menyebutkan bahwa buku ini menyajikan berbagai pendekatan konseptual dan panduan praktis untuk berbagai kalangan, mulai dari akademisi hingga aktivis filantropi. “Dengan demikian, dapat dijadikan pegangan… untuk menjadikan karya mereka bukan sekadar produk informasi, melainkan sebuah instrumen perubahan sosial yang nyata,” imbuh Roni.





