Politik

Pernyataan Febrie Dinilai Kendalikan Narasi di Tengah Fakta

Jakarta, Maret.id — Dalam sebuah operasi yang intensif, penyidik berhasil menyita uang tunai dalam berbagai mata uang asing, emas batangan seberat puluhan kilogram, serta sejumlah barang bukti lain dengan nilai total diperkirakan mencapai Rp476 miliar.

Surya Dermawan Nasution, Ketua DPP Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Bidang Agitasi dan Propaganda, menegaskan perlunya transparansi dalam situasi yang saat ini tengah menjadi sorotan publik. “Yang dituntut saat ini adalah keberanian membuka seluruh fakta secara terang-benderang,” kata Surya, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta.

Ia menambahkan bahwa legitimasi institusi tidak cukup dibangun melalui narasi, tetapi harus didasarkan pada transparansi dan akuntabilitas. “Publik tidak sedang meminta ceramah tentang profesionalisme Kejaksaan,” tuturnya. Ia menilai, publik berhak mendapatkan jawaban atas berbagai fakta yang hingga kini belum terjelaskan dengan baik.

Surya juga menyampaikan kritik kepada Jampidsus Febrie Adriansyah, yang dinilai tidak memberikan penjelasan memadai di tengah bukti-bukti yang mengaitkan dirinya. “Jampidsus juga membingkai polemik hanya sebagai persoalan persepsi publik,” ungkap Surya. Hal ini, menurutnya, berpotensi memperdalam krisis kepercayaan terhadap penegakan hukum.

Institusi penegak hukum seharusnya menjawab pertanyaan publik dengan data dan penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan sekadar membangun narasi yang mengalihkan perhatian dari substansi. GMNI menilai bahwa rangkaian peristiwa dalam kasus ini tidak dapat dipisahkan. Di saat Febrie menyatakan bahwa tugas penegakan hukum tetap berjalan normal, aparat kepolisian justru melakukan penggeledahan besar-besaran.

Surya menggarisbawahi bahwa fakta-fakta yang ditemukan di lapangan, termasuk penyitaan uang tunai dalam jumlah besar dan penemuan emas seberat 74 kilogram, lebih krusial untuk dijelaskan daripada sekadar penegasan bahwa organisasi tetap berjalan.

Perhatian publik meningkat setelah Febrie mengakui bahwa salah satu lokasi penggeledahan adalah kediaman pribadinya. Ia menyebutkan bahwa uang dan emas yang ditemukan bukan miliknya, melainkan milik pihak lain. Namun, GMNI menilai penjelasan tersebut masih menyisakan ruang kosong tanpa identitas jelas.

“Identitas pihak yang dimaksud dan alasan keberadaan barang-barang bernilai tinggi itu di dalam rumah pribadi seorang pejabat tinggi penegak hukum belum memperoleh penjelasan yang memadai kepada publik,” tegas Surya.

Sementara itu, pihak-pihak terkait diperkirakan akan menghadapi tantangan dalam memenuhi tuntutan transparansi dari masyarakat. “Ketika seseorang mengakui bahwa rumah itu adalah rumah pribadinya, sementara di dalam rumah tersebut ditemukan barang bukti dengan nilai fantastis, pertanyaan publik adalah sesuatu yang wajar,” pungkas Surya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button