Eri Cahyadi Buktikan Manuver Gotong Royong Atasi Stunting

Jakarta, Maret.id — Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menegaskan bahwa penanganan stunting di Kota Surabaya adalah hasil dari kolaborasi yang solid antara pemerintah dan berbagai elemen masyarakat. Dalam acara penandatanganan kesepakatan bersama (MoU) program Corporate Social Responsibility (CSR) untuk penanganan stunting, Eri mengungkapkan keyakinan bahwa keberhasilan ini tidak dapat dicapai tanpa gotong royong dari semua pihak yang terlibat.
Penurunan Angka Stunting di Surabaya
Eri Cahyadi melaporkan bahwa angka stunting di Surabaya kini turun menjadi 0,5 persen dari sebelumnya yang mencapai 28,5 persen saat ia mulai menjabat. “Alhamdulillah, stunting hari ini turun menjadi 0,5 persen dibandingkan waktu awal saya jadi wali kota yang mencapai 28,5 persen,” ungkapnya dengan penuh rasa syukur.
Dalam program yang diadakan di Gedung Serbaguna RW VI Cempaka, Kecamatan Tegalsari, Eri menyampaikan bahwa keberhasilan yang dicapai adalah bukti bahwa pembangunan kota memerlukan kontribusi dari berbagai pihak. Sejumlah lembaga sosial dan perusahaan, seperti Yayasan Buddha Tzu Chi dan Ciputra Group, turut ambil bagian dalam upaya ini.
Keterlibatan Semua Pihak dalam Penanganan Sosial
Eri menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, lembaga sosial, dan perusahaan dalam menangani isu sosial, termasuk stunting dan kemiskinan. Selain membahas penanganan stunting, Eri juga melakukan kunjungan ke kawasan Kedondong Kidul untuk meninjau kondisi rumah tidak layak huni (Rutilahu) yang masih banyak ditemukan di Surabaya.
“Dari sekitar 7.000 hingga 9.000 unit rumah tidak layak huni di Surabaya, kami tidak mungkin mengandalkan pemerintah kota saja,” jelas Eri. Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berperan aktif dalam memperbaiki kondisi Rutilahu.
Target Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni
Pemerintah Kota Surabaya menargetkan rehabilitasi 4.242 unit rumah pada tahun 2026 dengan dukungan berbagai sumber dana. Sebanyak 2.240 unit akan dibiayai melalui APBD Kota Surabaya, sedangkan 1.002 unit lainnya melalui jalur non-APBD, termasuk CSR dan lembaga sosial.
Lebih lanjut, Eri menyampaikan bahwa sekitar 1.000 unit rumah akan mendapatkan bantuan stimulan dari Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP). Sejak menjabat, ia mencatat sudah terdapat 3.500 hingga 4.000 rumah yang diperbaiki, namun kebutuhan bantuan masih sangat besar mengingat populasi Surabaya mencapai tiga juta jiwa.
Eri pun menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah membantu masyarakat Surabaya. Ia menyebut para pimpinan lembaga sosial dan perusahaan sebagai bagian dari “Wali Kota Surabaya” karena dedikasi mereka dalam membantu masyarakat kecil. “Surabaya dibangun oleh warga dan orang-orang yang hebat, yang penuh cinta. Itulah Wali Kota Surabaya,” tutupnya.
Dengan kolaborasi yang terus dijalin, diharapkan penanganan stunting dan Rutilahu di Surabaya akan semakin efektif, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara umum.





