Politik

Ustaz Novel: LGBT sebagai Ancaman bagi Moral Bangsa

Jakarta, Maret.id — Rencana Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk menyusun naskah Rancangan Undang-Undang (RUU) terkait LGBT mendapat dukungan dari Koordinator Pelaporan Bela Islam (Korlabi).

Wakil Ketua Korlabi, Ustaz Novel Bamukmin, mengapresiasi usaha MUI beserta para ulama dan umat Islam dalam menghadapi isu LGBT.

“Karena pemerintah pun terhadap LGBT menyatakan bahwa mereka adalah suatu ancaman nonmiliter yang akan sangat merusak moral dan mental anak bangsa,” kata Novel Bamukmin.

Novel menegaskan pentingnya MUI mengambil langkah konstitusional dengan pembentukan undang-undang.

“Sedari itu MUI harus membawa persoalan ini melalui jalur konstitusi agar bahaya laten LGBT menjadi UU, sehingga tindakan LGBT bisa diancam sebagai suatu kejahatan yang menurut pandangan saya memiliki daya rusak yang luar biasa,” ujarnya.

Sebagai Juru Bicara Gerakan Nasional Anti Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (Geranati-LGBT), Novel telah lama menolak simbol-simbol LGBT.

“Saya selaku jubir Gerakan Nasional Anti-LGBT sudah lama menolak simbol-simbol LGBT. Ketika itu grup musik Coldplay konser di GBK dan ditonton puluhan ribu massa. Menurut saya, grup musik yang mengampanyekan LGBT mendapat dukungan massa dan itu sangat berbahaya. Sekarang kita melihat fenomenanya semakin marak,” tuturnya.

Novel mendesak DPR untuk segera merespons aspirasi yang disampaikan MUI. Menurutnya, DPR memiliki tanggung jawab untuk membahas dan memutuskan pembentukan undang-undang.

“DPR harus peka terhadap permasalahan LGBT karena paling berwenang dan bertanggung jawab terhadap persoalan ini. DPR harus segera menerima aspirasi MUI dan memperjuangkannya sebagai perwakilan para ulama dan umat Islam,” tegasnya.

Selanjutnya, Novel memberikan catatan terkait penggunaan istilah LGSP (Lesbi, Gay, Sodomi, dan Pencabulan) dalam draf RUU yang tengah disusun MUI.

“Adapun nama LGSP sepertinya ruang lingkupnya semakin kecil karena tidak menjerat perilaku transgender dan biseksual. Karena transgender awal mula terjadi penyimpangan seksual untuk menarik sesama jenis melakukan penyimpangan orientasi seksual,” pungkasnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button