Politik

Andreas Buka Peluang UMKM Eks Dolly Tembus Ekspor, Risma Tekankan Kekuatan Pasar Lokal

Jakarta, Maret.id — Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Andreas Eddy Susetyo, memberikan dukungan bagi pelaku UMKM Gotong Royong di kawasan eks lokalisasi Dolly, Surabaya, untuk memasuki pasar ekspor. Ia menekankan bahwa pengembangan pasar internasional harus diimbangi dengan penguatan pasar domestik.

Pernyataan tersebut disampaikan Andreas dalam acara Klinik UMKM Gotong Royong yang berlangsung selama sepekan di Putat Jaya. Ini merupakan tanggapan terhadap mantan Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, yang menginginkan UMKM di wilayah tersebut diarahkan menuju pasar yang lebih luas.

“Saya berharap jika ada bantuan untuk ekspor, UMKM Gotong Royong dapat berkembang,” tutur Risma, yang kini menjabat sebagai Anggota DPR RI.

Risma juga menekankan pentingnya memastikan bahwa produk-produk UMKM memiliki pangsa pasar yang kuat di dalam negeri sebelum memperluas jangkauan ke luar negeri.

“Kompetensi dalam kualitas produk, kapasitas produksi, serta pemasaran adalah kunci utama bagi UMKM untuk naik kelas,” tegas Risma.

Ia memberikan contoh UMKM Pahlawan Ekonomi yang telah sukses, seperti Eceng Gondok Witrove dan Diah Cookies. Di wilayah Putat Jaya, terdapat juga pelaku usaha lainnya, termasuk Sandal Hotel/Alas Kaki Mampu Jaya.

Andreas menilai UMKM memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional. “UMKM menyerap 90 persen tenaga kerja di Indonesia, sehingga keberhasilannya menjadi sangat krusial bagi ekonomi kita,” imbuhnya.

Pengembangan UMKM di kawasan eks Dolly tidak hanya perlu meningkatkan produksi, namun juga diperlukan pendampingan menyeluruh. Pelaku usaha harus mendapatkan dukungan dalam aspek legalitas, pemasaran, dan pengelolaan keuangan.

Klinik UMKM Gotong Royong, bekerja sama dengan Dinas Koperasi UMKM Perdagangan Kota Surabaya, memberikan dukungan dalam pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB) dan hak kekayaan intelektual.

Selain itu, pelaku UMKM juga mendapatkan bantuan dalam produksi dan pemasaran daring melalui aplikasi UMKM Gotong Royong.

Dalam forum tanya jawab, pelaku UMKM menyampaikan beragam kebutuhan, seperti akses pemasaran, pelatihan digital, dan strategi bersaing tanpa terjebak dalam perang harga.

Risma menyerukan agar pelaku usaha tidak sepenuhnya bergantung pada bantuan pemasaran dari pemerintah. “Kekuatan produk dan kemampuan menjangkau konsumen secara langsung adalah faktor penentu dalam persaingan,” kata Risma.

Ia juga mendorong peningkatan pemasaran digital dan pengembangan branding sebagai bagian dari pendampingan berkelanjutan untuk pelaku usaha.

Klinik juga mengadakan pelatihan craft dan makanan. Pelatihan ini mencakup pembuatan dompet dan produk makanan seperti nasi kotak dan dim sum.

Produk-produk tersebut diarahkan untuk diluncurkan di bazar, sentra UMKM, dan saluran penjualan digital. Acara ini ditutup dengan Bazaar Kemerdekaan UMKM Gotong Royong pada 9 Agustus 2026, yang dihadiri ratusan pelaku UMKM dan masyarakat setempat.

Dengan penguatan di berbagai aspek, kawasan Putat Jaya diharapkan berkembang menjadi pusat ekonomi kreatif yang mandiri, mampu bersaing di pasar lokal, nasional, dan internasional.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button