Guntur Wahono: Tiban Perkuat Persaudaraan dan Keterampilan Daerah

Jakarta, Maret.id — Seni tradisi Tiban diharapkan tidak hanya dijadikan ajang pertunjukan budaya. Di balik pertarungan para jawara terdapat nilai sosial yang dapat mempertemukan masyarakat dan merawat persaudaraan antardaerah.
Pernyataan ini disampaikan oleh Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur, Guntur Wahono, saat menghadiri pagelaran Tiban di Alun-Alun Kanigoro, Kabupaten Blitar, dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Blitar ke-702.
Guntur menekankan bahwa perbedaan gaya dan kemampuan pelaku Tiban seharusnya tidak menjadi pemisah. “Setelah pertandingan selesai, tidak boleh ada sekat yang memisahkan antarkomunitas,” tutur Guntur.
Menurutnya, komitmen yang dibangun harus mencerminkan perbedaan gaya dalam satu rasa. “Di atas kita tarung, adu skill, adu keahlian, tetapi di bawah kita adalah sahabat dan saudara,” imbuh Guntur.
Prinsip tersebut merupakan nilai penting yang harus dijaga dalam tradisi Tiban. Para jawara dari berbagai daerah diperbolehkan menunjukkan kemampuan terbaiknya, tetapi persaingan tidak seharusnya membawa dampak negatif dalam kehidupan sosial.
Dengan demikian, arena Tiban menjadi lebih dari sekadar panggung kompetisi; ia juga berfungsi sebagai ruang untuk berinteraksi antar komunitas. Tradisi Tiban memiliki akar yang kuat di kawasan selatan Jawa Timur, termasuk di daerah Blitar, Tulungagung, Trenggalek, dan Kediri.
Guntur mendorong pemerintah daerah dan masyarakat untuk tidak hanya mempertahankan Tiban sebagai bentuk pertunjukan, tetapi juga menjaga ekosistem budaya. “Pelestarian harus dilakukan dengan memberikan ruang pertunjukan sekaligus memastikan nilai-nilai yang terkandung dapat diwariskan kepada generasi berikutnya,” tuturnya.
Guntur yang juga menjabat sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Blitar berharap agar Tiban tetap menjadi bagian dari agenda kebudayaan daerah. Ia merekomendasikan agar pagelaran Tiban kembali dimasukkan dalam rangkaian Hari Jadi Kabupaten Blitar ke-703 pada tahun 2027.
“Diharapkan Paguyuban ini untuk tahun depan masih diizinkan ikut serta dalam meramaikan Hari Jadi Kabupaten Blitar yang ke-703,” kata Guntur.
Pada pagelaran kali ini, para jawara Tiban Blitar berhadapan dengan pelaku Tiban dari Tulungagung. Pertemuan ini menunjukkan bahwa tradisi lokal melampaui batas administratif ketika budaya yang sama dipeluk oleh masyarakat.
Meskipun mereka bersaing di arena, para jawara kembali melanjutkan hubungan sebagai saudara. Tiban menemukan makna lebih dalam; bukan sekadar kompetisi, tetapi tradisi yang mempertemukan manusia dan menjaga hubungan antar komunitas.
Selama ruang pertunjukan dan regenerasi tetap tersedia, Tiban akan terus diwariskan tanpa kehilangan nilai penting yang menyertainya: berbeda gaya, tetapi tetap satu rasa dan bersaudara.





