Merawat Rumah Bernama Indonesia: DPD PDI Perjuangan Jatim

Jakarta, Maret.id — Ketua DPR RI Puan Maharani mengingatkan pentingnya warisan yang ditinggalkan bagi generasi mendatang. Dalam pidatonya pada Rapat Paripurna Pembukaan Masa Sidang I Tahun Sidang 2026–2027, ia menyoroti makna mendalam dari perjalanan Indonesia yang telah berusia 81 tahun.
Puan mengungkapkan bahwa warisan pemerintahan bukan hanya berupa infrastruktur atau kebijakan tertulis. “Warisan kita harus mencakup nilai, keputusan, dan pengabdian,” tegas Puan. Ia mengajukan pertanyaan penting, “Apa warisan kita bagi masa depan Indonesia?”
Dalam pandangannya, setiap generasi berurusan dengan tantangan untuk menciptakan Indonesia yang ideal. “Apakah kita akan meninggalkan Indonesia yang semakin mendekati cita-cita kemerdekaan?” ujar Puan.
Ia menekankan bahwa Indonesia dibangun atas dasar keberagaman. “Persatuan tidak berarti keseragaman,” imbuhnya. Puan menilai bahwa walaupun ada perbedaan suku, agama, atau pilihan politik, semua harus dapat hidup dalam harmoni.
Selanjutnya, Puan juga menyebutkan pentingnya kepercayaan dalam proses pembangunan. “Ketika masyarakat saling percaya, kita bisa memperbaiki kehidupan bersama,” kata Puan. Ia mengingatkan bahwa persatuan dan kesatuan adalah fondasi pembangunan nasional.
Puan menegaskan bahwa tanggung jawab menjaga persatuan adalah tugas seluruh rakyat dan terutama para penyelenggara negara. “Setiap kebijakan harus membuat rakyat merasa bahwa negara adalah rumah mereka,” sambungnya.
Indonesia telah mengalami banyak perubahan sejak kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Generasi dan pemerintah silih berganti, tetapi cita-cita kemerdekaan harus tetap dipegang teguh. “Berdaulat, adil, dan makmur adalah pekerjaan yang belum selesai,” tegas Puan.
Dalam konteks ini, ia mengajak semua elemen bangsa untuk merenungkan warisan yang akan ditinggalkan. “Pertanyaannya kini, apa yang akan kita tinggalkan untuk Indonesia?” tandas Puan.





