Waspada El Nino 2023: Lebih Kuat dari 2015 dan Implikasinya

Jakarta, Maret.id — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi fokus perhatian pemerintah. Hal ini seiring dengan adanya fenomena El Niño yang diperkirakan berlangsung dengan intensitas kuat pada tahun 2026.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyatakan bahwa situasi tahun ini mirip dengan periode El Niño 2015, yang dikenal memiliki ancaman karhutla tinggi. “Per hari ini lebih tinggi dari 2015. Ini data dari BMKG yang kami selalu koordinasi,” ujar Raja Juli dalam Rapat Kerja bersama Komisi IV DPR RI, pada Selasa, 18 Agustus 2026.
Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), saat ini El Niño berada pada kategori sangat kuat dengan indeks Nino 3.4 mencapai +2,19. Kondisi ini menunjukkan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik lebih tinggi daripada normal, yang berpotensi mengakibatkan berkurangnya curah hujan di Indonesia.
Lebih lanjut, potensi ancaman karhutla diperkirakan akan meningkat seiring dengan proyeksi Indian Ocean Dipole (IOD) yang akan memasuki fase positif pada September-November 2026. “Situasi ini kurang lebih menyerupai kondisi El Niño kuat pada 2015,” imbuh Raja Juli.
Fenomena El Niño yang datang lebih awal menyebabkan cuaca menjadi lebih panas, kering, dan berlangsung lebih lama. Sebuah citra sebaran asap pada 16 Agustus 2026 menunjukkan bahwa asap terdeteksi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Papua Selatan.
Raja Juli mengimbau masyarakat dan korporasi agar tidak melakukan pembakaran lahan dalam kondisi cuaca yang panas dan kering. Ia juga mengingatkan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap sumber api sekecil apa pun, termasuk puntung rokok. “Jangan membakar lahan. Masyarakat dan korporasi harus sama-sama waspada,” tegasnya.
Kemenhut akan terus berkoordinasi dengan BMKG dan melakukan langkah-langkah antisipasi untuk menghadapi potensi karhutla. Raja Juli menekankan pentingnya kewaspadaan semua pihak untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan, terutama saat kondisi iklim diperkirakan lebih kering dan panas dibandingkan periode normal.





