Politik

Karhutla Berulang, Menhut Diminta Bertindak Serius

Jakarta, Maret.id — Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, diingatkan untuk tidak hanya fokus pada penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ketika api berkobar.

Wakil Ketua Harian DPP PKB sekaligus Inisiator PKB EcoGen, Nadya Alfi Roihana, menekankan pentingnya pembenahan tata kelola kawasan secara menyeluruh.

“Menhut jangan cuma cosplay damkar. Masyarakat lebih butuh tata kelola kawasan daripada sekedar atraksi main selang,” tegas Nadya di Jakarta, Jumat, 21 Agustus 2026.

Nadya menjelaskan, faktor cuaca seperti fenomena El Nino dapat memperburuk kondisi kering dan meningkatkan risiko kebakaran. Namun, faktor manusia juga berkontribusi sebagai penyebab utama karhutla.

“Karena itu, penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan memadamkan api dan menindak pelaku setelah kebakaran terjadi,” tambahnya.

Dia mengingatkan bahwa walaupun ada data kawasan rawan dan riwayat kebakaran yang dimiliki Kementerian Kehutanan, penanganan yang efektif masih perlu diterapkan.

“Kalau kita sudah tahu kawasan yang rawan, tahu titik-titik yang berulang terbakar, tahu faktor manusianya, bahkan sudah banyak pelaku yang diproses hukum, pertanyaannya kenapa kebakaran tetap berulang?” sambung Nadya.

Ia menekankan bahwa tantangan selanjutnya adalah menerjemahkan data tersebut menjadi kebijakan penataan kawasan yang jelas.

“Kemenhut sudah punya data kawasan rawan dan riwayat kebakaran. Yang menjadi pertanyaan, setelah kita tahu kawasan mana yang berulang terbakar, apa yang berubah dalam cara kawasan itu dikelola?” katanya.

Nadya juga mengusulkan evaluasi terhadap konsesi di kawasan berulang terbakar. Menurutnya, perusahaan yang mendapatkan manfaat ekonomi dari kawasan tersebut harus bertanggung jawab atas pemulihan ekosistem.

“Jangan sampai keuntungan dari pengelolaan kawasan dinikmati secara privat, tetapi ketika kawasan terbakar, biaya pemadaman dan pemulihannya kembali ditanggung negara dan masyarakat,” ujarnya.

Dia menambahkan, keberhasilan penanganan karhutla seharusnya tidak hanya diukur dari kecepatan pemadaman, tetapi juga dari penurunan frekuensi dan luas kebakaran dari tahun ke tahun.

“Kita tidak kekurangan pengalaman menghadapi karhutla. Kita juga tidak kekurangan data. Yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian untuk membenahi hulunya,” pungkasnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button