Aliansi Mahasiswa DIY Tolak Perampasan Ruang Hidup di Pracimantoro

Jakarta, Maret.id — Aliansi Solidaritas Mahasiswa DIY Perjuangan Pracimantoro mengangkat isu penting terkait pembangunan yang berpotensi merusak lingkungan dan kehidupan masyarakat. Mereka mendesak perhatian publik terhadap beberapa persoalan mendesak yang telah teridentifikasi.
Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah diskusi publik bertajuk “Kemerdekaan Lingkungan: Menyoal Eksploitasi Lingkungan dan Perampasan Ruang Hidup Masyarakat Pracimantoro” yang berlangsung di Yogyakarta pada Jumat, 21 Agustus 2026.
Diskusi tersebut dihadiri oleh berbagai narasumber, termasuk akademisi, mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), aktivis lingkungan, dan masyarakat asli Wonogiri. Puluhan kampus di Yogyakarta juga turut serta, tergabung dalam Forum BEM DIY (FBD).
Kegiatan berakhir dengan pernyataan sikap, di mana aliansi menyampaikan enam tuntutan. Tuntutan tersebut mencakup penolakan terhadap penggunaan kampus untuk proyek-proyek yang dianggap merusak lingkungan.
“Kami menolak kampus dan kalangan akademisi digunakan sebagai alat kepentingan proyek yang merusak lingkungan di Pracimantoro,” tegas aliansi dalam pernyataan sikapnya.
Tuntutan lainnya antara lain adalah penolakan terhadap penyalahgunaan dan manipulasi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) dalam pembangunan. Mereka juga mendesak agar pihak-pihak yang terkait dalam proyek ekstraktif pabrik semen di Pracimantoro diusut tuntas.
Dukungan bagi masyarakat Pracimantoro juga ditekankan, untuk mempertahankan ruang hidup serta lingkungan yang baik dan sehat. “Kami menuntut jaminan keterlibatan dan pemenuhan hak masyarakat dalam setiap pengambilan keputusan terkait pembangunan,” imbuh mereka.
Akhirnya, aliansi menyatakan bahwa jika tuntutan tidak diindahkan, mereka akan meningkatkan eskalasi gerakan secara nasional hingga mencapai apa yang mereka sebut “darah penghabisan.”





