Budi Arie Tolak Penundaan Analisis Pemilu hingga 2029

Jakarta, Maret.id — Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, menegaskan bahwa ia tidak akan menarik kembali analisisnya mengenai kemungkinan pemilihan umum (Pemilu) berlangsung lebih cepat dari tahun 2029.
Ia menjelaskan bahwa pernyataannya merupakan analisis pribadi dan bukan ajakan politik. “Saya enggak menarik pernyataan saya,” ungkap Budi Arie.
Lebih lanjut, Budi Arie menyatakan bahwa analisis dan ajakan politik merupakan dua hal yang berbeda. Ia menyampaikan pernyataannya dalam konteks untuk memahami berbagai kemungkinan dalam dinamika politik.
“Kita bukan berkehendak, tapi beranalisa. Kalau kehendak politik, kemampuan politik, dan analisa politik, dua hal yang beda,” kata Budi Arie.
Sebelumnya, ia mengatakan bahwa dalam politik terdapat istilah art of possibility atau seni kemungkinan. Menurutnya, membicarakan berbagai kemungkinan tidak berarti ia menginginkan hal tersebut benar-benar terjadi.
“Jadi kita bisa bicara tentang berbagai kemungkinan-kemungkinan atau dalam bahasa yang lebih lugas disebut kira-kiraan keadaan,” tutur Budi Arie.
Ia juga menegaskan bahwa analisis tersebut bukan dimaksudkan sebagai ajakan untuk mempercepat Pemilu 2029. Budi Arie justru menekankan pentingnya menjaga demokrasi dan konstitusi.
“Bukan ajakan loh, analisa. Beda kan? Saya enggak berusaha meng-encourage atau mengajak,” imbuhnya.
Analisis tersebut, katanya, muncul dari pengamatan terhadap dinamika masyarakat, termasuk munculnya gerakan mahasiswa dan masyarakat. “Ada kegelisahan soal dinamika masyarakat. Ada tren baru gerakan mahasiswa, gerakan masyarakat. Ini harus kita kelola,” pungkas Budi Arie.





