Politik

Rumah Oksigen Muhammadiyah Bantu Korban Karhutla di Indonesia

Jakarta, Maret.id Kualitas udara di Kalimantan mengalami penurunan drastis akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hal ini menimbulkan potensi risiko kesehatan serius bagi masyarakat, terutama yang berkaitan dengan penyakit pernapasan.

Menanggapi situasi ini, One Muhammadiyah One Response (OMOR) melalui Pos Komando dan Koordinasi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Lazismu tetap siaga dan melakukan respons darurat. Relawan Muhammadiyah aktif memberikan layanan kepada masyarakat yang terdampak.

Ketua Lazismu Kalimantan Tengah, Muhammad Fitriani, menyatakan bahwa Pos Komando dan Koordinasi melakukan pendataan dan memastikan layanan kemanusiaan berlanjut melalui program Indonesia Siaga. “Kami tidak hanya membantu pemadaman, tetapi juga menyediakan layanan seperti Rumah Oksigen, mobil oksigen, layanan kesehatan lapangan, dan pembagian masker,” tegas Fitriani.

Fitriani juga menjelaskan, “Rumah Oksigen di Kalimantan Tengah beroperasi dari pukul 08.00 hingga 16.00 WIB dan berlokasi di Kompleks Perguruan Muhammadiyah, Jalan RTA Milono KM 1,5, Palangka Raya.” Relawan yang terlibat mencakup pimpinan, ‘Aisyiyah, dan organisasi otonom lainnya.

Relawan dibagi ke dalam berbagai bidang, termasuk 10 relawan pemadaman, 60 relawan medis, 30 relawan logistik, dan 15 relawan Pos Komando dan Koordinasi. Hingga 30 Agustus 2026, Rumah Singgah Oksigen Muhammadiyah telah melayani tujuh warga yang mengalami gangguan pernapasan, dengan total penerima manfaat mencapai 53 orang.

Lazismu Kalimantan Tengah terus mendukung respon bencana melalui penggalangan dana untuk memperluas manfaat layanan. Kebutuhan mendesak mencakup tabung oksigen, masker N95, obat-obatan, serta alat pelindung diri bagi relawan.

Ketua Lembaga Resiliensi Bencana (LRB)/Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Kalimantan Tengah, Heru Setiawan, mengungkapkan bahwa keberadaan Pos Komando dan Koordinasi merupakan bagian penting dari gerakan respons bencana Muhammadiyah terhadap karhutla. “Kami berupaya menghadirkan layanan yang dapat langsung dirasakan masyarakat,” imbuh Setiawan.

Kebakaran di Kalimantan telah mengakibatkan hilangnya 74.640,61 hektare lahan. Kabut asap yang ditimbulkan dapat meluas hingga ke negara tetangga, meningkatkan jumlah titik api serta paparan asap terhadap masyarakat. Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa per 27 Agustus 2026, kualitas udara di Kalimantan berada pada kondisi tidak sehat, berdampak pada lebih dari lima juta warga.

Berdasarkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), sejumlah wilayah seperti Kalimantan Barat berada dalam kondisi berbahaya. Situasi ini menuntut perhatian dan respons cepat dari berbagai pihak untuk melindungi kesehatan masyarakat.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button