Prabowo Diminta Perhatikan Survei untuk Calon Presiden 2024

Jakarta, Maret.id — Mantan Menko Polhukam Mahfud MD menilai penurunan tingkat kepercayaan publik terhadap Presiden Prabowo Subianto sebagai sinyal serius yang perlu diperhatikan.
Mahfud mengaku percaya akan hasil sejumlah lembaga survei yang menunjukkan penurunan signifikan dalam tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Prabowo, yang kini berada di bawah 50 persen.
“Saya percaya survei itu benar karena empat lembaga survei mengatakan hal yang sama. Dan angkanya mirip-mirip, terkecuali soal dukungan parpol,” kata Mahfud melalui kanal Youtube miliknya, Rabu, 2 September 2026.
Ia menyebutkan lembaga survei yang mencatat tren tersebut, di antaranya Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Indikator Politik Indonesia, serta survei Tempo.
Menurut Mahfud, konsistensi hasil dari lembaga survei itu menunjukkan kritik publik terhadap tata kelola pemerintahan Prabowo tidak bisa diabaikan begitu saja.
Ia menjelaskan, dalam enam bulan pertama pemerintahan, masyarakat masih dapat memaklumi berbagai persoalan karena memberi kesempatan bagi pemerintah untuk bekerja.
Namun, jika setelah waktu berlalu tidak terlihat perkembangan positif, tingkat kepercayaan publik berpotensi terus menurun.
“Itu artinya kritik-kritik masyarakat terhadap Pak Prabowo selama ini itu benar bahwa tata kelola pemerintah itu sudah bagus,” tuturnya.
Mahfud mengingatkan tren ini perlu menjadi perhatian Prabowo, terutama menjelang Pilpres mendatang.
Penurunan elektabilitas Prabowo dianggap sebagai persoalan serius, mengingat kompetisi politik ke depan tidak hanya melibatkan calon dari satu kelompok.
“Oleh sebab itu, kalau Prabowo ingin mencalonkan diri lagi sebagai presiden ini harus diperhatikan. Mungkin untuk (popularitas) Dedi Mulyadi bisa diredam karena sama-sama Gerindra, tetapi calon-calon lain bisa menyalip,” jelasnya.
Mahfud menegaskan keinginan Prabowo untuk kembali maju sebagai calon presiden adalah hak politiknya.
Namun, ia meminta Prabowo untuk tidak menganggap remeh tren survei.
“Jangan terlalu percaya diri, terlalu polos. Itu yang bikin dia selalu kalah di masa lalu karena terlalu menyepelekan terhadap survei,” pungkasnya.





