Eri Cahyadi: Maulid Nabi Perlu Teladani Akhlak Rasulullah

Jakarta, Maret.id — Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menekankan bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW harus lebih dari sekadar bersholawat. Menurutnya, makna Maulid perlu diimplementasikan melalui keteladanan perilaku dan kepedulian terhadap sesama.
Pernyataan tersebut disampaikan Eri saat menghadiri acara Gebyar Hari Besar Islam dengan tema “PKK Bersholawat, Meraih Cinta dan Syafaat Nabi Muhammad” di Convention Hall Surabaya, pada Rabu (2/9/2026). Acara ini dihadiri oleh sekitar 1.400 anggota dan keluarga besar TP PKK dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah.
“Jika kita ingin mendapatkan cinta Rasulullah, tidak cukup hanya banyak bersholawat. Kita harus berusaha meneladani akhlak beliau, menjaga persaudaraan, menyayangi sesama, dan memberikan manfaat bagi orang lain,” tegas Eri.
Eri juga menyatakan bahwa nilai-nilai keteladanan tersebut sejalan dengan karakter masyarakat Surabaya, yang selama ini menjadi kekuatan dalam pembangunan kota. Ia menekankan bahwa pemerintah tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan masyarakat.
“Surabaya tidak mungkin menjadi kuat jika hanya dibangun oleh pemerintah. Kota ini kuat karena masyarakat saling membantu dan saling peduli,” imbuhnya.
Oleh karena itu, Eri mendorong kader PKK untuk menjadi penggerak pembangunan hingga tingkat lingkungan. Kedekatan kader dengan masyarakat dianggap penting untuk mengetahui kondisi sosial secara langsung dan memastikan program pemerintah tepat sasaran.
Khususnya dalam menangani persoalan sosial dan kemiskinan, kader PKK diminta untuk aktif mengenali kondisi warga di lingkungan mereka. Eri menghubungkan peran kader PKK dengan penguatan Kampung Pancasila, di mana mereka diharapkan memastikan perhatian dan intervensi kepada warga yang membutuhkan.
“PKK harus menjadi ujung tombak untuk menyampaikan mana yang benar, mana yang keliru, dan mana yang masih kurang. Kita harus bersama memastikan program pemerintah sampai kepada masyarakat yang membutuhkan,” kata Eri.
Semangat berbagi juga terlihat dalam peringatan Maulid ini, di mana tradisi brayakan diadakan dengan membagikan 2.233 barang kepada peserta, termasuk perlengkapan rumah tangga dan makanan. Menurut Eri, tradisi ini bukan sekadar pembagian barang, tetapi juga bagian dari upaya mempertahankan kearifan lokal serta menumbuhkan semangat gotong royong.
Ia juga mengajak masyarakat untuk memperkuat budaya infak dan sedekah. “Nilai sedekah tidak ditentukan oleh besar kecilnya nominal, tetapi oleh keikhlasan dan kemampuan masing-masing,” ujarnya.
Eri menilai potensi zakat, infak, dan sedekah di Surabaya perlu dikelola secara optimal agar warga yang membutuhkan dapat terbantu. “Zakat yang terkumpul di Surabaya harus diprioritaskan untuk membantu warga Surabaya,” tegasnya.
Pesan tentang kepedulian juga ia kaitkan dengan pelayanan publik dan ketertiban pembayaran parkir secara digital. Eri memastikan bahwa penerimaan parkir yang dikelola resmi akan kembali untuk kepentingan masyarakat melalui berbagai program seperti pendidikan gratis dan kesehatan.
“Uang dari parkir yang masuk ke pemerintah digunakan untuk masyarakat, seperti pendidikan gratis dan berbagai kebutuhan pembangunan,” jelasnya.
Ia mengingatkan masyarakat untuk tidak tinggal diam pada hal-hal yang dirasa tidak benar. Keberanian memperbaiki kesalahan adalah bagian dari meneladani Rasulullah SAW.
“Warga Surabaya jangan diam ketika ada yang tidak benar. Mari kita perbaiki bersama. Inilah semangat Maulid Nabi, bagaimana kita meneladani Rasulullah untuk berbuat baik,” imbuhnya.
Eri juga menekankan pentingnya peran ibu-ibu PKK dalam membangun karakter keluarga. Nilai-nilai kejujuran, kepedulian, toleransi, dan gotong royong perlu ditanamkan sejak dini.
“Jika seorang ibu mengajarkan anaknya untuk menghormati orang lain dan membantu yang membutuhkan, insya Allah akan lahir generasi Surabaya yang memiliki akhlak baik,” tutupnya.





