Muhammadiyah Dukung Juru Masak SPPG Bersertifikasi Profesional

Jakarta, Maret.id — Pelatihan dan sertifikasi juru masak dianggap krusial dalam meningkatkan profesionalitas pengelola dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Muhammadiyah.
Pandangan tersebut disampaikan oleh Badan Pelayanan dan Pemenuhan Gizi Muhammadiyah (BPPGM) sebagai langkah untuk meningkatkan kualitas layanan gizi yang dikelola oleh organisasi tersebut.
Siti Noordjannah Djohantini, perwakilan Badan Pembina Harian BPPGM, mengungkapkan hal ini dalam acara Uji Sertifikasi Kompetensi Juru Masak Makan Bergizi Muhammadiyah di SPPG UNISA Yogyakarta. “Ini menjadi sangat penting dalam rangka mengampu SPPG Muhammadiyah secara nasional. Kita harus memiliki juru masak atau chef yang benar-benar ahli,” ungkap Noordjannah.
Noordjannah menegaskan bahwa sertifikasi juru masak merupakan bagian integral dari sistem pengelolaan yang serius di SPPG Muhammadiyah. Organisasi ini bermitra dengan berbagai perguruan tinggi, termasuk Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (UNISA) yang memiliki program studi gizi bereputasi baik.
“Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya Muhammadiyah untuk memastikan pengelolaan program pemenuhan gizi berjalan berdasarkan standar keilmuan dan profesionalitas,” imbuhnya. Menurut Noordjannah, tujuan dari sertifikasi ini adalah untuk menciptakan chef profesional yang teruji dari setiap SPPG.
“Melalui program ini kami menekankan bahwa ini bukan untuk kepentingan sendiri. Maka, cara dakwah seperti inilah yang harus terus dijaga,” tuturnya. Dengan berkembangnya SPPG Muhammadiyah, penguatan sumber daya manusia menjadi kunci dalam profesionalisasi tata kelola.
Noordjannah menegaskan komitmen Muhammadiyah untuk menjalin kerja sama yang serius dengan berbagai Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP), selalu mengedepankan profesionalitas. Ia juga mengapresiasi antusiasme peserta sertifikasi yang datang dari berbagai daerah di Indonesia.
“Semangat ini diharapkan terus berlanjut untuk meningkatkan kualitas pengelolaan SPPG Muhammadiyah,” katanya. Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa seluruh manajemen SPPG Muhammadiyah harus mematuhi regulasi yang telah ditetapkan.
“Kepatuhan terhadap regulasi harus sejalan dengan tata kelola internal Muhammadiyah yang menjunjung tinggi akuntabilitas dan amanah,” tegas Noordjannah.
“Selain seluruh regulasi, kita punya tata kelola internal yang sangat ketat yang selama ini menjadi DNA Muhammadiyah, yakni akuntabilitas, bekerja atas dasar amanah, ikhlas, dan berkhidmat. Nah, itu yang tidak bisa ditawar lagi!” pungkasnya.





